Darlings, kalo lo pernah nonton The Little Mermaid atau versi live-action-nya, pasti kebayang sosok putri laut bersirip yang jatuh cinta sama manusia.
Tapi plot twist: “duyung” itu bukan cuma cerita dongeng. Dia nyata. Dan tau gak, dia lagi gak baik-baik aja lho.
Kenalin, dugong (Dugong dugon). Mamalia laut herbivora satu-satunya di dunia. Di masyarakat Melayu, dia dikenal sebagai duyung, artinya “perempuan laut”.
Dugong adalah mamalia laut besar dari Ordo Sirenia. Keluarganya tinggal satu-satunya di Famili Dugongidae.
Dulu, abad ke-18, dia masih punya sepupu bernama Steller's sea cow (Hydrodamalis gigas). Tapi sayangnya, sepupunya itu udah punah. Nah, masalahnya dugong juga malah ikut terancam seperti sepupunya yang udah punah itu.
Secara fisik, dugong mirip “ikan tambun”, panjangnya bisa sampai 3 meter, berat sekitar 420 kg, warna abu-abu, ekor pipih horizontal kayak paus, tidak punya sirip punggung. Ukuran dugong betina juga biasanya lebih besar dari jantan.
Sirip depannya tebal dan bertulang, mirip lengan dan ia gunakan untuk berenang, jaga keseimbangan, bahkan buat “merayap” pas lagi makan.
Darlings tau gak makanan favoritnya? Lamun alias seagrass. Di Indonesia, dia doyan banget lamun genus Halodule dan Halophila karena tinggi nitrogen dan rendah serat.
Sehari, satu dugong bisa makan 25–30 kg lamun. Jadi kalau padang lamun dan habitatnya rusak, ya, dia kehilangan tempat makannya.
Sayangnya, Indonesia yang punya sekitar 1.507 km² padang lamun. Itu =cuma 5% yang tergolong sehat, 80% kurang sehat, 15% nggak sehat.
Artinya sedikit banget tempat dugong buat makan. Kalo gak kita soroti terus, dia bisa punah.
Seperti ikan lain, dugong sebenarnya tidur gak sih?
Dugong tidur. Tapi bukan rebahan di kasur.
Menurut edukator Tamang Dugong Indonesia, mereka punya fase resting dalam tiga kondisi, yaitu di permukaan air, di kolom perairan, dan di dasar laut.
Mereka tetap harus di dalam air biar tubuhnya lembab. Tapi karena mereka mamalia dan punya paru-paru, dugong tetap harus naik ke permukaan buat ambil oksigen.
Mereka bisa menyelam 3,5 sampai 8 menit sebelum naik lagi buat napas. Lubang hidungnya punya katup yang bisa nutup rapat saat menyelam.
Di Indonesia, dugong bisa ditemukan di Jawa Timur, Bali, Kalimantan, Sulawesi Utara, NTT, sampai Papua Barat.
Statusnya Dilindungi oleh pemerintah Indonesia. Secara global, menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), statusnya sekarang Critically Endangered. Artinya: selangkah lagi menuju kepunahan.
Sayangnya, dia terancam oleh kita, manusia, dan habitat buat ia hidup dan makan semakin kritis. Kadang ia ditemukan terjerat jaring nelayan, tertabrak kapal, juga sering diculik secara ilegal untuk dijual.
Dagingnya, taringnya, bahkan “air mata”nya dianggap magis dan dijadikan alasan buat diperdagangkan secara ilegal. Padahal itu mitos.
Data dari BPSPL Bali mencatat pada 2024 ada sekitar 115 mamalia laut mati di perairan Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. Dugong termasuk di dalamnya.
Reproduksinya dugong juga lambat banget, sekali melahirkan cuma 1 anak, disusui 1–2 tahun, dengan jarak kelahiran bisa 2,5–7 tahun.
Kalau satu mati, kebayang gak tuh proses bagi dugong yang baru lahir menuju dewasa kayak gimana?
Karena dugong adalah indikator kesehatan laut, kita juga terancam lho jika ia gak ada. Maka dari itu, Darlings, perlu bagi kita untuk peduli dan melestarikan satwa-satwa yang ada di sekitar kita agar tidak punah seperti pendahulunya.