Anjing Bernyanyi Papua, Penjaga Gunung Carstensz yang Sempat Dianggap Punah

Berita Darling
Darling Fauna
Anjing Bernyanyi Papua, Penjaga Gunung Carstensz yang Sempat Dianggap Punah
27 Feb 2026

Tahu gak sih kamu kalo di Papua, terdapat jenis anjing lokal endemik yang pernah sempat dinyatakan punah oleh para peneliti?

Ya, namanya adalah anjing bernyanyi papua. Memiliki kekerabatan dengan anjing bernyanyi nugini, ia biasa ditemukan di dataran tinggi seperti Pegunungan Carstensz, yang berada di jantung tengah pulau Papua.

Berbeda dengan anjing pada umumnya, anjing bernyanyi memiliki gonggongan khas melolong seperti nyanyian lembut.

Secara fisik, anjing bernyanyi terlihat seperti anjing shiba inu, ras yang paling populer di jepang. Berambut kuning kemerahan, tubuhnya lebih kecil daripada anjing hutan biasanya.

Bagi pejantan, tingginya berkisar 45 cm dengan panjang tubuh 65 cm. Sedangkan anjing bernyanyi betina lebih kecil dengan berkisar 37 cm dengan panjang tubuh 65 cm.

Para peneliti juga menyebut kalo anjing ini secara genetik mirip dengan anjing liar purba dan ikonik di Australia, Dingo. Namun anjing bernyanyi papua memiliki perilaku dan morfologi yang berbeda.



Merdu di bulan purnama

Sesuai dengan namanya, anjing ini mengeluarkan suara merdu ketika melolong. Nyanyian tersebut menjadi bentuk komunikasi antar individu, dan anjing bernyanyi papua hidup dalam kawanan kecil berjumlah 2 sampai 3 ekor dalam satu kelompok.

Yang menarik, seperti serigala, nyanyian tersebut muncul ketika bulan purnama penuh. Lolongannya juga mengikuti arah naik dan turunnya arah bulan.

“Nyanyian tersebut merupakan lolongan panjang, menyerupai serigala, namun lebih lembut. Berirama melodi rendah hingga tinggi,” kata Peneliti Pusat Penelitian Biologi BRIN Anang Setiawan.



Disakralkan Suku Moni

Suku Moni adalah suku yang tinggal di sekitar Puncak Carstensz. Di ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu, anjing bernyanyi papua menjadi sakral dan dianggap telah ada di sana sejak 3.500 tahun lalu.

Menurut Peneliti Senior Balai Arkeologi Papua Hari Suroto kepada BBC Indonesia, anjing ini dianggap sebagai leluhur, tuan tanah dan penjaga di kawasan Carstensz.

“Mereka dianggap sebagai tuan tanah atau disebut penjaga situ. Karena untuk saat ini, anjing bernyanyi papua hanya ditemukan di kawasan (tambang emas dan tembaga) Grassberg atau di puncak Carsztensz,” jelasnya.

Menurut kearifan lokal Suku Moni, anjing bernyanyi papua ini dapat mengetahui mana orang jahat dan mana orang baik.

Anjing ini kemudian dianggap mampu berubah menjadi manusia di malam hari, dan memakan orang yang dianggap jahat atau musuh.

 

Sempat dianggap punah tahun 1970an

Keberadaannya sempat dianggap punah di alam liar (extinct in the wild) pada 1970an, sejumlah peneliti dari Universitas Cenderawasih melaporkan temuan 15 anjing liar di dataran tinggi, dekat kawasan pertambangan Grassberg.

Pada 2018, mereka kemudian melakukan risetnya kembali dan menemukan 18 anjing bernyanyi papua. 8 di antaranya merupakan anjing yang telah teramati, sedangkan 10 lainnya adalah anjing yang baru ditemukan.

Kemudian di masa pandemi, anjing bernyanyi papua juga terlihat dan diabadikan oleh salah satu pegawai tambang Grassberg di ketinggian 4.000 mdpl.

Menurut sejumlah penelitian, anjing bernyanyi papua masih hidup liar dan tersisa 300 ekor di kawasan konservasi.

Di balik "nyanyiannya" yang magis dan tatapannya yang tajam, tersimpan teka-teki evolusi yang masih digali oleh para peneliti dunia.

Dengan populasinya yang sangat terbatas, tanggung jawab pelestarian tidak hanya berada di pundak Suku Moni sebagai penjaga adat, tetapi juga pada kita semua, ya Darlings!

 

Penulis : Hasbi