Apakah Kita Tidak Bisa Melihat Kunang-kunang Lagi?

Darling Air
Darling Energi
Darling Fauna
Apakah Kita Tidak Bisa Melihat Kunang-kunang Lagi?
31 Jan 2026

Dulu, lihat kunang-kunang berkelap-kelip di sawah atau kebun waktu malam itu hal biasa. Sekarang? Banyak anak muda bahkan belum pernah lihat langsung. Pertanyaannya jadi serius, apa benar generasi sekarang bisa jadi generasi terakhir yang masih sempat melihat kunang-kunang di alam liar?

Jawabannya memang nggak hitam-putih, tapi para ilmuwan sepakat, populasi kunang-kunang di berbagai belahan dunia sedang menurun. Kalau ancamannya nggak dikendalikan, bukan nggak mungkin kunang-kunang makin langka di masa depan.

Cahaya Kota = Masalah Buat Kunang-kunang

Kunang-kunang hidup dari “bahasa cahaya”. Kilatan mereka itu bukan hiasan, tapi sinyal buat cari pasangan. Masalahnya, polusi cahaya dari lampu jalan, gedung, dan rumah bikin sinyal alami ini “tenggelam”.

Peneliti menemukan bahwa cahaya buatan di malam hari bisa mengganggu komunikasi kawin kunang-kunang, sehingga peluang berkembang biak menurun. Kalau mereka gagal kawin, populasinya lama-lama ikut turun.

Habitat Hilang, Rumah Mereka Ikut Hilang

Banyak spesies kunang-kunang butuh lingkungan lembap seperti sawah, rawa, tepi sungai, atau hutan. Saat lahan berubah jadi permukiman, industri, atau area pertanian intensif, habitat itu ikut hilang.

Kehilangan habitat disebut sebagai salah satu ancaman utama bagi kunang-kunang secara global. Tanpa tempat hidup yang cocok, siklus hidup mereka terganggu sejak fase larva.

Pestisida Juga Ikut “Menghilangkan Cahaya”

Bahan kimia pertanian seperti pestisida nggak cuma membunuh hama, tapi juga bisa berdampak ke serangga lain, termasuk kunang-kunang, terutama di fase larva yang hidup di tanah atau area lembap. Paparan zat kimia ini ikut disebut sebagai faktor penurunan populasi.

Jadi… Benarkah Mereka Bisa Hilang?

Belum ada bukti bahwa semua kunang-kunang akan punah dalam waktu dekat. Tapi para peneliti menegaskan bahwa tren penurunan ini nyata dan perlu perhatian. Kalau polusi cahaya, kerusakan habitat, dan penggunaan bahan kimia terus terjadi tanpa kontrol, pengalaman melihat kunang-kunang bisa jadi hal yang makin jarang, bahkan hanya jadi cerita masa kecil generasi sebelumnya.

 

Sumber:

kompas

sciencedaily

nationalgeographic

Penulis : SD