Apa yang kamu bayangkan soal lautan? Pantai, ombak yang berdebur, matahari yang tak habis-habis menyinari, dan biota-biota laut yang berkeliling mengitari perahu manusia?
Ternyata yang kita ketahui soal lautan itu masihlah sedikit. Melansir Oceana, lebih dari 80 persen lautan di bumi belum diketahui secara menyeluruh.
Fakta ini terasa agak aneh, sebab wilayah yang masih misterius itu justru menutupi sekitar 71 persen permukaan planet kita.
Kita belum tahu apa bedanya biota-biota laut di palung terdalam. Kita belum tahu juga berapa umur mereka sepanjang sejarah bumi.
Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) hanya sebagian kecil wilayah laut yang telah dipetakan secara detail.
Lebih mudah ke luar angkasa?
Bahkan Oseanografer NASA Gene Carl Feldman mengatakan bahwa lebih mudah mengirim manusia ke luar angkasa daripada mengirimnya ke dasar laut.
Di permukaan laut saja, atmosfer menekan manusia sekitar 15 psi (pound per square inch), kemudian ketika ia menyelam lebih jauh, tekanan itu meningkat drastis dan mampu membuat manusia hancur.
Bahkan di titik terendah bumi, dasar Palung Mariana, tekanannya serupa dengan 50 pesawat jumbo jet menekan tubuh manusia sekaligus.
Selain tekanan ekstrem, laut juga memiliki kondisi lain yang membuat eksplorasi semakin sulit. Suhu yang mendekati titik beku, kegelapan total tanpa cahaya matahari, hingga medan bawah laut yang belum terpetakan.
Menyelam ke titik terdalam bumi
Salah satu ekspedisi paling terkenal menuju lautan terdalam dilakukan oleh James Cameron pada 2012. Saat itu, ia menyelam sendirian ke dasar Palung Mariana menggunakan kapal selam khusus.

Palung mariana, sumber: Kompas.com
Misi tersebut dikenal sebagai Deepsea Challenger Expedition. Penyelaman ini menjadi salah satu pencapaian penting dalam eksplorasi laut dalam. Cameron berada di dasar laut selama sekitar 2 jam 36 menit, mengambil rekaman video resolusi tinggi serta mengumpulkan sampel batuan dan organisme.
Sebagai gambaran, jika Gunung Everest yang memiliki tinggi 8.848 meter ditempatkan di Palung Mariana, puncaknya masih akan tenggelam. Bahkan, masih akan tersisa sekitar 2 kilometer air di atasnya.
Kenapa Laut Perlu Dilindungi?
Demi menyelamatkan lautan, para ilmuwan dan organisasi lingkungan kini mendorong target global untuk melindungi 30 persen wilayah laut dunia pada 2030, yang dikenal sebagai inisiatif 30x30 Target.
Hal ini menjadi bagian penting dari kesepakatan global yang dicapai dalam Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework pada tahun 2022.
Target ini dipasang dengan tujuan sederhana, yakni memberi ruang bagi ekosistem laut pulih dan berkembang tanpa eksploitasi berlebihan dari manusia.
Sebab, menurut laporan dari PBB, lebih dari sepertiga stok ikan dunia sudah dieksploitasi secara berlebihan. Artinya, jika eksploitasi terus berlangsung tanpa batas, banyak populasi ikan bisa runtuh.
Dengan menetapkan kawasan perlindungan laut atau Marine Protected Area (MPA), aktivitas seperti penangkapan ikan, pertambangan laut, atau pembangunan industri bisa dibatasi atau bahkan dilarang.
Karena itu, melindungi sebagian wilayah laut dianggap sebagai langkah penting untuk menjaga fungsi ekosistem laut sekaligus memastikan sumber daya laut tetap tersedia bagi generasi mendatang.
Tanpa perlindungan yang memadai, eksploitasi berlebihan, perubahan iklim, dan polusi berpotensi mempercepat kerusakan ekosistem laut di seluruh dunia.
Menjaga lautan dan misterinya
Lautan selama ini sering dianggap sebagai wilayah yang sudah familiar bagi manusia. Namun kenyataannya, dunia di bawah permukaan air masih menyimpan misteri yang sangat besar.

Biota laut di laut dalam, sumber: newscientist.com
Di tempat yang gelap, dingin, dan penuh tekanan ekstrem itu, kemungkinan masih ada ribuan spesies yang belum pernah ditemukan.
Dan mungkin, seperti yang sering dikatakan para ilmuwan, planet yang paling belum kita kenal justru adalah planet yang kita tinggali sendiri.