Dari Ende ke Rimba, Cerita Pancasila dan Beringin yang Bikin Kita Makin Sayang Bumi

Darling Tanaman
Berita Darling
Dari Ende ke Rimba, Cerita Pancasila dan Beringin yang Bikin Kita Makin Sayang Bumi
22 Jun 2025

Hay Darlings!

Kalian semua pasti tau dong Pancasila, tapi pernah nggak sih kalian mikir, Pancasila itu awalnya lahir di mana? Bukan di gedung mewah atau ruang rapat penuh mikrofon, tapi justru di sebuah tempat tenang di Timur Indonesia, Ende, Nusa Tenggara Timur.

Bayangin suasana Ende di tahun 1934. Bung Karno, yang saat itu sedang menjalani masa pengasingan, duduk merenung di bawah rindangnya pohon sukun, menatap laut dan gunung, sambil memikirkan satu hal besar, Indonesia. Dari sunyi itu, lahirlah gagasan dasar negara kita, lima prinsip yang akan jadi fondasi kebangsaan, yang hari ini kita kenal sebagai Pancasila. Refleksi dari alam, dari ketenangan, dan dari harapan akan masa depan yang damai dan bersatu.

Nah Darlings, kita main tebak-tebakan yuk soal Pancasila.  Lambang sila ketiga Pancasila itu apa, hayo? Bukan bintang, bukan kepala banteng, dan jelas bukan rantai. Clue-nya, dia tinggi, teduh, dan akarnya banyak banget. Yap, Pohon Beringin!

Beringin bukan sekadar pohon besar yang sering kita lihat di alun-alun kota. Ia adalah simbol keteduhan, perlindungan, dan kekuatan akar yang menyatukan. Filosofinya? Simpel tapi dalam, beringin itu meneduhkan siapa saja tanpa pilih-pilih, akarnya mencengkeram kuat seperti ikatan kita sebagai bangsa.

Tapi tunggu dulu, Darlings, beringin bukan cuma punya nilai simbolik, dia juga punya peran keren dalam dunia nyata. Di ekosistem hutan, pohon ini berfungsi sebagai penjaga alami. Bayangin aja, beringin punya akar gantung yang bisa menyerap dan menyimpan air dengan baik. Fungsi ini bikin tanah jadi stabil, nggak mudah longsor, dan membuat kelembapan tetap terkendali sehingga kestabilan permukaan bumi juga terjaga. Ini penting banget buat ekosistem di sekitarnya. Nggak heran kalau beringin dianggap sebagai penyimpan air alami. Di hutan, pohon ini jadi penyeimbang alami yang menjaga siklus air dan tanah tetap berjalan.

Kanopinya yang luas juga jadi tempat nyaman bagi berbagai makhluk hidup. Mulai dari burung-burung, serangga, sampai jamur dan tumbuhan lain, semuanya hidup harmonis di bawah naungan beringin. Jadi nggak heran kalau hutan dengan pohon beringin bisa dibilang sebagai surga kecil yang hidup berdampingan.

Selain itu, dengan daunnya yang rimbun, beringin menghasilkan oksigen yang lebih banyak dibandingkan jenis pohon lainnya, sehingga udara di sekitarnya terasa lebih segar. Beringin mampu menyerap polutan dan jejak karbon dari udara, membantu membersihkan udara dan mengurangi pencemaran.

Bahkan, di tengah masyarakat, beringin sering dianggap mistis, tapi di balik cerita-cerita itu, ada kenyataan penting yang kadang luput, beringin adalah pohon kehidupan. Dia tumbuh lambat, tapi pasti. Tahan lama, kokoh, dan memberi manfaat terus-menerus. Kita bisa belajar dari sifat itu, tenang, tapi berdampak. Diam, tapi menjaga.

Jadi, mulai sekarang, kalau lihat beringin, jangan cuma mikir "itu pohon besar di tengah kota". Ingat bahwa dia adalah lambang persatuan sekaligus penjaga ekosistem yang luar biasa. Dan yang paling penting, yuk kita jaga pohon-pohon seperti beringin, karena mereka bukan cuma bagian dari cerita, tapi juga masa depan.

 

Aku siap sadar lingkungan, kalian juga kan.

 

Referensi:

  • Tempo
  • Netral News
  • RRI
  • Pusaka Indonesia
Penulis : SD