Dua Nama Terakhir yang Menjaga Badak Kalimantan dari Kepunahan

Berita Darling
Darling Fauna
Darling Inspirasi
Dua Nama Terakhir yang Menjaga Badak Kalimantan dari Kepunahan
26 Feb 2026

Di tengah hutan Kalimantan yang kian menyusut, Darlings tahu gak kalo ada masa depan satu spesies akan bergantung kepada dua nama?

Mereka adalah Pahu dan Pari. Keduanya bukan sekadar nama, guys. Lebih dari itu mereka adalah benteng terakhir agar badak kalimantan gak cuma dongeng nantinya di masa mendatang.

Sebagian dari kamu bakal mikir, emangnya ada badak kalimantan? Nah, pada dasarnya badak tuh di Indonesia sebenarnya cuma ada dua, yaitu badak jawa (Rhinoceros sondaicus) dan badak sumatra (Dicerorhinus sumatrensis).

Kedua cirinya adalah tubuhnya lebih mungil dari badak lain di seluruh dunia. Lalu badak kalimantan ada di mana? Badak kalimantan merupakan bagian dari badak sumatra yang populasinya berkembang di tanah Borneo.

Ia memiliki nama ilmiah Dicerorhinus sumatrensis harrissoni. Gak seperti badak Asia lainnya, badak sumatra subspesies Kalimantan ini memiliki dua cula, sedangkan yang lain hanya satu. 

Tubuhnya ditutupi rambut kemerahan, membuatnya sering dijuluki badak berbulu. Si mungil lincah ini biasanya memiliki tinggi bahu sekitar 120-145 cm dengan berat 500-800 kg.

Menurut sejumlah penelitian, dapat dikatakan badak ini adalah “fosil hidup” karena keduanya adalah badak paling primitif yang masih bertahan di era modern. 

Saat ini, Badak sumatra sedang berdiri di tepi jurang kepunahan. Statusnya di IUCN Red List sudah masuk kategori Critically Endangered, satu langkah terakhir sebelum benar-benar hilang dari muka bumi.

Bayangkan, hanya tersisa kurang dari 80 individu di seluruh dunia. Mirisnya lagi, di Kalimantan kita hanya punya dua ekor, dan keduanya adalah betina. Tanpa adanya pejantan, harapan untuk melihat bayi badak baru di tanah Borneo seolah sedang berpacu dengan waktu.

 

Pahu dan Pari dari belantara hutan

Darlings, kenalan dulu dengan Pahu, badak betina yang kisahnya mulai terungkap pada 25 November 2018.

Setelah terekam kamera di sekitar Sungai Pahu, Kalimantan Timur, ia akhirnya ditranslokasi ke tempat yang lebih terpantau manusia, yaitu Suaka Badak Kelian (SBK).

Selain itu ada Pari, badak betina lainnya dari Kabupaten Mahakam Ulu.

Sosok Pari sebenarnya sudah lama menghantui rekaman kamera jebak di pedalaman hutan.

Sayangnya, habitat aslinya terancam deforestasi dan kondisi kritis ini memicu gerak cepat dari aktivis peduli badak dan pemerintah.

"Badak Pari sudah diketahui cukup lama dan dia hidup sebatang kara. Kami menyebutnya sebagai badak yang doom, hidup tanpa pasangan maupun kelompok," ungkap Direktur Aliansi Lestari Rimba Terpadu (ALeRT) Oktavia Khairani.

Pahu dan Pari kini menjadi simbol kesepian sekaligus harapan yang tersisa. Di balik rimbunnya hutan yang kian menyempit, mereka sedang berpacu dengan waktu yang tak pernah menunggu.

Sekarang pertanyaannya, akankah kita membiarkan 'benteng terakhir' ini runtuh begitu saja, atau kita akan menjadi saksi kembalinya kejayaan sang fosil hidup di tanah air kita sendiri?

Pilihan ada di tangan kita, Darlings.

Penulis : Hasbi