Jam 23.58.
Lo udah siap di depan HP. Keranjang kuning isinya, satu crop top, satu outer, satu celana yang lagi tren banget di media sosial.
00.00.
Checkout.
Diskon dapet. Gratis ongkir. Rasanya kayak habis menang lomba.
Seminggu kemudian?
Bajunya dipakai sekali. Difoto. Upload.
Lalu masuk lemari. Ketutup baju lain yang nasibnya mirip.
Kita sering mikir, “Ah cuma baju doang.”
Padahal perjalanan satu potong pakaian itu panjang banget dan nggak semuanya ramah buat bumi.
Kaos yang kelihatan simpel itu awalnya dari kapas yang ditanam pakai banyak air. Setelah itu diproses di pabrik, diwarnai pakai bahan kimia, dijahit, dikemas, dikirim lintas kota bahkan negara.
Semua proses itu butuh energi. Semua proses itu ninggalin jejak karbon dan limbahnya sering kali berakhir di air yang sama yang dipakai orang buat hidup.
Tapi di sisi kita, ceritanya cuma
“Lucu sih, tapi kayaknya udah nggak mood pakainya.”
Pernah nggak, berdiri depan lemari lama banget sambil bilang,
“Gue nggak punya baju.”
Padahal isinya numpuk.
Yang kurang sebenarnya bukan bajunya tapi rasa “baru” yang bikin kita ngerasa excited lagi.
Fast fashion hidup dari perasaan itu. Tren diganti cepat, biar kita ngerasa outfit lama udah “nggak layak tampil”.
Akhirnya siklusnya gini terus:
Beli → pakai sebentar → bosan → beli lagi.
Sementara baju yang kita tinggalin pelan-pelan jadi sampah tekstil yang susah terurai.
Nggak realistis juga kalau harus stop total. Kita tetap butuh pakaian. Kita juga pengen tampil oke.
Mungkin yang bisa diubah itu cara kita ngeliat baju.
Bukan lagi:
“Ini lucu buat sekali foto.”
Tapi jadi:
“Ini bakal gue pakai berkali-kali nggak ya?”
Baju yang sama bisa kelihatan beda cuma dengan:
outer tambahan, cara lipat lengan, aksesori, atau dipaduin item lain. Kreativitas kadang lebih powerful daripada keranjang checkout.
Outfit hasil thrifting atau mix & match sering malah kelihatan lebih punya karakter dibanding yang “seragam tren”.
Setiap pilihan kecil kita itu kayak suara. Mau mendukung produksi cepat yang bikin sampah numpuk, atau memperpanjang umur barang yang udah ada.
Bumi mungkin nggak langsung “sembuh” cuma karena satu orang ngulang outfit tapi budaya bisa berubah dari kebiasaan kecil yang jadi normal.
Bayangin kalau “repeat outfit” lebih diterima daripada “baju cuma sekali pakai”.
Itu bukan cuma gaya hidup hemat, juga langkah kecil buat ngurangin beban lingkungan.