Darlings, waktu kecil kamu pernah naik gajah di kebun binatang? Kelihatannya seru ya. Tapi ternyata, atraksi ini malah menyakiti mereka lho.
Meski tubuhnya besar dan kuat, gajah sebenarnya tidak dirancang untuk ditunggangi manusia. Secara anatomis, tulang punggung mereka berbeda dengan hewan seperti kuda.
Mengutip Green Elephant Sanctuary Park, struktur tulang belakang gajah mengarah ke atas, mirip manusia.
Di sana tidak ada cakram bulat yang menopang beban seperti pada hewan tunggangan. Yang ada justru tulang yang menonjol dan memanjang ke atas.
Akibatnya, tulang punggung dan leher gajah tidak didesain menahan beban berat, apalagi manusia yang duduk di atasnya.

Atraksi gajah sumatera, sumber: antaranews.com
Beberapa penelitian bahkan menemukan bahwa gajah yang sering ditunggangi memiliki tanda kerusakan pada tulang belakang, membuat tubuhnya terlihat bungkuk.
Belum lagi penggunaan howdah, pelana khusus gajah, yang sering meninggalkan luka di punggung. Jika tidak dirawat dengan baik, luka ini bisa berujung infeksi.
Selain fisik, secara psikologis, gajah juga bisa mengalami stres dan trauma berkepanjangan karena dipaksa menjadi atraksi atau kendaraan wisata.
Itulah kenapa gajah berbeda dengan kuda, hewan yang memang secara biologis lebih memungkinkan untuk ditunggangi manusia.
Menurut World Animal Protection, gajah yang dimanfaatkan sebagai atraksi wisata kerap kali dipisahkan dari induknya sejak kecil. Hal ini berlawanan dengan sifat alami gajah yang merupakan hewan sosial dan hidup dalam kelompok besar.
Gak hanya gajah yang berasal dari penangkaran, gajah di alam liar juga di beberapa tempat seringkali dipisahkan dari induknya dengan tujuan ‘dijinakkan’.
Di India, misalnya, terdapat tradisi pelatihan gajah liar yang dikenal sebagai phajaan. Dalam praktik ini, anak gajah dipisahkan dari induknya dan dikurung di kandang sempit. Setelah itu mereka dilatih, sering kali dengan kekerasan, hingga mentalnya terganggu dan lebih mudah dikendalikan manusia.
Atas dasar itulah berbagai organisasi dan gerakan konservasi mengampanyekan penghentian aktivitas menunggang gajah.
Di Indonesia praktik ini juga mulai dihentikan. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal KSDAE di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengeluarkan surat edaran pada 18 Desember 2025 yang meminta penghentian peragaan gajah tunggang dalam kegiatan konservasi, termasuk atraksi di kebun binatang.
Karena pada akhirnya, sebesar apa pun tubuh mereka, gajah tetap makhluk hidup yang bisa terluka secara fisik maupun batin.
Cukup kita aja yang jadi tulang punggung, Darlings, gajah jangan.