Lukisan Gua di Goa Meratus yang Bikin Ilmuwan Modern Geleng-geleng

Berita Darling
Darling Inspirasi
Lukisan Gua di Goa Meratus yang Bikin Ilmuwan Modern Geleng-geleng
10 Jun 2026

Pernah nggak sih kalian bayangkan, Darlings, kalau bukit batu kapur raksasa yang berdiri kokoh di pedalaman Kalimantan Selatan ini sebenarnya adalah ruang kreasi paling gokil pada zamannya? 

Di sinilah, tepatnya di Pegunungan Meratus, nenek moyang kita puluhan ribu tahun lalu ternyata sudah hidup, berkebudayaan dan meninggalkan jejak kreatif yang sukses membuat para ilmuwan modern takjub lho!

Berbeda dengan gua-gua di Eropa yang atmosfernya cenderung dingin dan kaku, gua di Meratus ini justru punya vibrasi yang sangat khas tropis dan penuh kehangatan tersendiri bagi siapa saja yang menjelajahinya. 

Begitu kamu merayap masuk ke dalam ceruk batunya yang lembap, mata kamu bakal langsung disambut oleh deretan cap tangan berwarna merah oker yang tampak sangat kontras dengan dinding batu alami di sekelilingnya.

Jangan bayangkan deretan visual memukau ini cuma sekadar coretan iseng tanpa makna seperti aksi vandalisme remaja di tembok halte bus atau fasilitas publik kota zaman sekarang. 

Cap-cap tangan purba ini dibuat dengan teknik yang tergolong canggih pada masanya, yaitu dengan cara menempelkan telapak tangan langsung ke batu lalu menyemburkan pigmen warna alami dari dalam mulut atau pipa bambu.

Hasil akhir dari proses kreatif yang unik ini adalah sebuah siluet telapak tangan estetis yang kalau kita tatap secara langsung hari ini, rasanya seperti sedang mendapatkan ajakan tos hangat lintas zaman. 

Ini merupakan sebuah cara yang paling puitis sekaligus keren dari manusia purba untuk menunjukkan kepada semesta bahwa mereka pernah ada, pernah hidup, dan pernah merayakan eksistensi mereka di tanah Kalimantan.

Keseruan eksplorasi di dalam gua Meratus ini tidak berhenti di cap tangan saja, karena di beberapa sudut terdalam gua kamu bisa menemukan guratan figuratif satwa eksotis seperti babi hutan dan rusa. 

Detail anatomi hewan yang mereka gambar di sana terbilang cukup akurat, mulai dari bentuk tubuh yang proporsional hingga bahasa gestur tubuh hewannya yang tampak begitu hidup seolah-olah sedang bergerak menembus lebatnya hutan.

Dari tingkat kedetailan gambar tersebut, kita bisa tahu kalau nenek moyang kita di masa lalu adalah tipe pengamat alam dan lingkungan sekitar yang sangat jeli sekaligus cerdas. 

Mereka tidak cuma berburu satwa liar untuk sekadar mengisi perut yang lapar, tapi juga aktif mempelajari perilaku unik dari setiap hewan tersebut lalu mendokumentasikannya ke dalam sebuah ensiklopedia ilustrasi raksasa di atas batuan karst.

Bisa dibilang, dinding-dinding gua yang sunyi ini pada zamannya berfungsi sebagai gabungan fungsional antara majalah sains, galeri seni visual, dan buku harian komunal yang mencatat aktivitas harian mereka. Proses melukis di tebing karst yang terjal, curam, dan cenderung gelap ini kuat dugaan merupakan bagian penting dari ritual suci atau mantra spiritual yang sangat dihormati oleh seluruh anggota komunitas purba.

Ketika kita bergeser sedikit ke Desa Dukuhrejo di Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu, tingkat kejeniusan ekspresi visual dari nenek moyang kita ini akan terasa semakin magis dan mendalam. 

Badan Riset dan Inovasi Nasional bahkan menyebut ratusan gambar cadas berusia sekitar dua ribu tahun di kawasan tersebut sebagai sebuah kitab tertua di Kalimantan yang sengaja tertulis abadi di atas dinding batu.

Koleksi visual yang tersimpan rapi di Mantewe ini benar-benar menjadi satu paket lengkap yang menyajikan pameran seni, catatan petualangan, sekaligus arsip sejarah sakral yang sangat berharga bagi ilmu pengetahuan. 

Di sana terdapat empat belas figur manusia kangkang sebagai simbol penolak bala, enam perahu arwah pengantar kematian, hingga siluet buaya sepanjang satu meter yang berkaitan erat dengan adat istiadat suku Dayak Meratus.

Menjaga lembaran "kitab batu" di gua Meratus agar tetap utuh adalah bukti nyata bahwa kita menghargai dari mana kita semua berasal, Darlings

Melindungi ekosistem karst dan bentang alam suci ini bukan sekadar merawat peninggalan masa lalu, melainkan janji kita untuk menjaga keharmonisan alam yang telah digelorakan oleh para leluhur sejak puluhan ribu tahun silam.

Penulis : SD