Kalau ngomongin pantai, yang kebayang biasanya pasir putih, air jernih, dan langit sore buat foto. Jarang ada yang bilang, "Aku, pengen liat mangrove, dehh!!." Padahal di balik akar-akarnya yang mencuat dan kelihatan berantakan itu, mangrove bekerja tanpa jeda. Menahan ombak. Menyimpan karbon. Jadi tempat tinggal ribuan jenis makhluk hidup. Semua dilakukan tanpa minta perhatian. Mungkin ini saatnya kita kasih Mangrove sebanyak-banyaknya perhatian kita.
Karena kamu tahu nggak, darlings, Indonesia itu pemilik ekosistem mangrove terluas di dunia. Berdasarkan Peta Mangrove Nasional 2025, luas mangrove Indonesia tercatat sekitar 3,45 juta hektare. Itu kira-kira 20 persen dari seluruh mangrove di bumi. Satu dari lima tanaman mangrove di planet ini, kurang lebih, tumbuh di pesisir negara kita.
Keren? Banget. Tapi sedihnya, sepanjang tahun 1980 sampai 2025, Indonesia diperkirakan kehilangan sekitar 1,3 juta hektare mangrove. Penyebabnya macam-macam, alih fungsi lahan jadi tambak dan permukiman, abrasi, sampai kerusakan karena pencemaran. Jadi yang kita punya sekarang adalah sisa dari sesuatu yang dulu jauh lebih luas. Mangrove itu kalau diibaratkan, punya talenta yang banyak dan luar biasa yang nggak pernah libur meski tanggalan di kalender warna merah.
Hari ini, mangrove udah mulai masuk ke meja perencanaan negara. Pada konferensi iklim COP30 akhir 2025 lalu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kelautan dan Perikanan meluncurkan Peta Jalan dan Panduan Aksi Ekosistem Karbon Biru Indonesia. Disebutkan bahwa mangrove kita menyimpan cadangan karbon hingga ratusan juta ton. Lalu pada 2026, Bappenas merilis Peta Jalan Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Karbon Biru 2026–2045. Salah satu lokasi yang disebut dalam rencana tindak lanjutnya ada di pesisir Demak dan Jepara, Jawa Tengah. Artinya, mangrove bukan lagi sekadar "tanaman di pinggir pantai". Dia sudah dianggap aset penting untuk menghadapi krisis iklim.
Pesisir utara Jawa termasuk wilayah yang paling merasakan dampak abrasi. Ada desa-desa yang garis pantainya mundur, bahkan ada yang sebagian daratannya sudah tergenang. Di sinilah upaya penanaman dan perawatan mangrove jadi penting. Lewat program Djarum Trees for Life, Djarum Foundation ikut mendukung konservasi mangrove di pesisir utara Jawa, salah satunya bersama warga yang selama bertahun-tahun memperbaiki sabuk mangrove di pesisir Semarang.
Darlings, menanam mangrove itu baru langkah pertama. Tapi ada rentetan aktivitas yang perlu kita lakukan berulang, bibit harus dirawat, dipantau, dan diganti kalau mati. Butuh bantuan kita buat menjaga agar mangrove itu tumbuh rimbun dan bertahan lama hingga manfaatnya punya dampak yang panjang. Dan kita nggak harus tinggal di pesisir untuk ikut menjaga mangrove. Kamu bisa ikut menanam, merawat, menjaga, dan mengajak teman-teman kamu buat ikut terlibat dalam menjaga mangrove di pesisir.