Masalahnya Bukan di Ikan Sapu-Sapu, Tapi… Kita

Darling Air
Berita Darling
Darling Fauna
Darling Inspirasi
Masalahnya Bukan di Ikan Sapu-Sapu, Tapi… Kita
23 Apr 2026

Darlings ada yang hobi aquascape gak? Pasti pernah kepikiran dong nambahin ikan yang bisa ngebersihin lumut-lumut akuarium, biar gak terlalu sering maintenancenya?

Nah, salah satu ikan yang dianggap ‘pembersih’ adalah sapu-sapu. Dia bener sih memakan lumut dan seolah tidak butuh perhatian lebih.

Tapi gak jarang dia bisa menjadi gede banget, bahkan bisa memakan setengah akuarium.

Solusinya? Gak sedikit pecinta akuarium justru malah membuang sapu-sapu ini ke sungai.

Padahal ikan tersebut habitatnya jelas bukan di sana.

 

Ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung

Ikan sapu-sapu merupakan salah satu ikan air tawar yang berasal dari Amerika Selatan, terutama di sungai Amazon. 

Karena peminatnya tinggi, ikan ini diimpor ke Indonesia dan kini mudah ditemukan di pasaran. Namun ironisnya, populasinya justru berkembang pesat bukan di akuarium, melainkan di sungai-sungai akibat pemeliharaan yang tidak bertanggung jawab.

Gak jarang ikan ini dimanfaatkan oleh pedagang sebagai bahan makanan yang nantinya dikonsumsi oleh masyarakat.

Menurut jurnal yang ditulis Haninah, dkk (2022), gak cuma siomay atau batagor yang berbahan dasar ikan, ada juga beberapa inovasi makanan seperti abon ikan sapu-sapu.

Hasilnya diduga bisa mengganggu kesehatan warga, sebab ikan sapu-sapu bisa hidup di situasi terekstrem sekalipun. Dikhawatirkan dagingnya menyerap zat berbahaya yang ada di aliran sungai tersebut.

 

Perlu pengendalian, bukan sekadar dibuang

Menurut Pakar ikan dan konservasi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Charles Simanjuntak, pengendalian populasi ikan sapu-sapu harus dilakukan secara terpadu.

“Cara paling efektif adalah menggabungkan beberapa metode terpadu, mulai dari pencegahan, penangkapan hingga kontrol populasi,” jelas Charles melalui Kompas.

Menurutnya penangkapan ikan berukuran kecil yang kurang dari 30 cm lebih efektif menurunkan populasi.

Selain itu, pemanfaatan predator alami seperti ikan baung dan betutu dinilai bisa membantu pengendalian populasi.

Di samping itu, penghobi dan pemeliharan perlu diedukasi lebih lanjut karena jika ikan invasif dilepas, maka akan mengganggu ekosistem sungai tersebut.

Pelaku pelepasan ikan dapat dijerat pula dengan Undang-Undang No.31/2004 tentang Perikanan Pasal 12 ayat (1), disebutkan bahwa setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan atau kerusakan sumber daya ikan dan atau lingkungannya di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia.

Menurut Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Jenderal Soedirman, Setijanto, mengatakan bahwa pada dasarnya tidak masalah jika ikan dipelihara di akuarium, seperti sapu-sapu, lohan atau arapaima.

“Kalau dijaga di akuarium gak masalah. Asal jangan seperti kasus ikan louhan dan sapu-sapu yang masuk perairan umum. Ketika orang bosan, kemudian dibuang, berkembang di perairan umum dan mendesak populasi endemik,” jelasnya kepada Mongabay.

Jadi, bijak memelihara ikan hias itu bukan soal memilih yang ‘berguna’, tapi juga soal tanggung jawab ya Darlings. 

Karena sekali bosan dan dilepas, dampaknya bukan cuma ke satu ikan, tapi ke seluruh ekosistem.

 

Penulis : SD