Menampung Air Hujan, Kearifan Lokal Jaga Lingkungan

Darling Tanaman
Darling Air
Darling Inspirasi
Menampung Air Hujan, Kearifan Lokal Jaga Lingkungan
19 Jan 2026

Belakangan ini hujan turun hampir tiap hari. Di beberapa tempat, air melimpah sampai bikin waswas banjir. Tapi sebenarnya, jauh sebelum istilah cuaca ekstrem sering kita dengar, masyarakat lokal di Indonesia sudah punya cara cerdas menghadapi hujan: menampung airnya.

Kearifan Lokal dari Berbagai Daerah

Di Bali, masyarakat mengenal sistem Subak. Meski terkenal sebagai sistem irigasi sawah, Subak bekerja dengan prinsip menahan, mengatur, dan membagi air hujan serta air sungai agar tidak langsung mengalir bebas.

Di Nusa Tenggara Timur (NTT), masyarakat membangun embung, kolam penampung air hujan untuk menyimpan air saat musim hujan sebagai cadangan di musim kering.

Sementara di Jawa, khususnya wilayah pedesaan, menampung air hujan di gentong atau tempayan sudah lama jadi praktik umum. Air hujan digunakan untuk kebutuhan non-minum seperti menyiram tanaman dan membersihkan rumah.

Dengan ditampung, aliran air melambat, tanah punya waktu menyerap, dan tekanan ke sungai berkurang.

Manfaat lainnya:

  • Mengurangi potensi banjir

  • Menjaga cadangan air tanah

  • Membantu kebutuhan air saat kemarau

  • Menjaga lingkungan tetap seimbang

Di tengah hujan yang makin sering dan deras, kearifan lokal ini terasa makin masuk akal. Bukan teknologi rumit, tapi solusi berbasis alam yang sudah teruji waktu.

Mungkin sekarang saatnya kita meniru cara lama yang bijak, menampung air hujan, bukan membuangnya.

Penulis : SD