Darlings, bayangkan lo mendarat di sebuah tempat di mana hewan-hewan nggak lari saat melihat manusia karena mereka nggak tahu kalau manusia itu eksis.
Selamat datang di Pegunungan Foja, Papua, sebuah "benteng" alam yang bikin film Jurassic Park terasa nyata dan ada di Indonesia.
Petualangan keren ini dimulai saat seorang biarawan nyentrik bernama Bruder Henk van Mastrigt mendarat dari helikopter di ketinggian 1,5 kilometer.
Baru saja kakinya menyentuh tanah, dia langsung kena "salam kenal" dari alam: tas pakaiannya hilang entah ke mana!
Alhasil, selama tiga minggu ke depan, dia cuma modal baju yang nempel di badan. Tapi alih-alih panik, Henk malah girang bukan main.
Sambil menenteng jaring merah, dia langsung lari ke rawa berlumpur demi mengejar kupu-kupu yang beterbangan.
Henk bukan lagi main-main, dia sedang menjalankan misi penting. Saking niatnya, dia bahkan sengaja kencing di lumpur karena tahu mineral urine bakal menarik perhatian kupu-kupu langka.
Hasilnya? Boom! Dia menemukan spesies baru dengan tanda huruf "J" di sayapnya.
Buat Henk dan tim ilmuwan lainnya, setiap temuan di sini rasanya seperti hadir di hari pertama penciptaan dunia, mengingat Pegunungan Foja memang nyaris tak tersentuh selama berabad-abad.
Keterisolasian Foja inilah yang bikin tempat ini memang udah jadi hal yang lumrah. Sejak zaman penjelajah Alfred Russel Wallace tahun 1800-an, kawasan ini sudah dicap "mustahil ditembus" karena tebingnya yang tegak lurus dan kanopi hutannya yang super rapat.
Baru pada ekspedisi tahun 2005 dan 2008-lah, dunia benar-benar bisa mengintip isinya. Di sana, mereka nggak cuma ketemu kupu-kupu "huruf J" milik Henk, tapi juga bertemu penghuni eksklusif seperti burung isap madu berkulit muka jingga yang belum pernah terlihat di mana pun di muka Bumi.
Eksklusivitas Foja nggak berhenti di burung saja, karena di balik rimbunnya pepohonan, ada mamalia yang bentuknya bikin dahi berkerut.
Kenalan, yuk, sama Landak Irian berparuh panjang. Hewan ini adalah definisi "keajaiban evolusi": dia mamalia tapi bertelur, punya moncong dengan detektor listrik untuk berburu cacing, dan lidah berduri untuk menyeruput mangsanya layaknya spageti!
Saking misteriusnya, bahkan warga lokal Papua pun belum pernah melihat bayinya. Benar-benar penghuni "Dunia yang Hilang" yang sangat autentik.
Namun, tinggal di tengah "harta karun" ini ada harganya. Selama berkemah di sana, para ilmuwan harus siap mental menghadapi gangguan alam yang absurd.
Bayangkan, lo lagi enak tidur tapi tiba-tiba ada "hujan belatung" di dalam tenda gara-gara lalat bertelur di atas jaring.
Belum lagi suara alamnya yang bikin kuping berdengung; setiap jam 18.00 tepat, suara tonggeret bakal berubah jadi mirip sirene polisi, disusul paduan suara katak yang suaranya mirip robot di film fiksi ilmiah jadul.
Pada akhirnya, saat helikopter kembali menjemput dan membawa mereka pulang, tim ini sadar kalau mereka nggak cuma membawa daftar spesies baru.
Mereka membawa bukti kalau Indonesia masih punya satu sudut bumi yang suci dan tak terjamah. Foja adalah pengingat keras buat kita semua: kalau benteng terakhir ini sampai rusak, kita bukan cuma kehilangan pohon, tapi kehilangan rahasia alam yang bahkan belum sempat kita beri nama.
Betapa ragamnya konservasi Indonesia. Yuk, kita jaga terus alamnya!
Sumber:
Natgeo Indonesia
Kompas
Detik