Sobat Darling, apakah Anda pernah mendengar tentang keajaiban arkeologi yang tersembunyi di hutan kabupaten Muaro Jambi? Jika belum, Artikel ini akan membahas mengenai Candi Muaro Jambi, sebuah kompleks candi megah yang terletak di provinsi Jambi, Indonesia. Mari kita mulai pembahasan mengenai kemegahan dan sejarah yang tersembunyi di balik pepohonan hutan yang rindang di kawasan Muaro Jambi.
Candi Muaro Jambi adalah kompleks candi Hindu-Buddha yang memiliki luas 3981 hektar. Kompleks percandian ini terletak di daerah Kabupaten Muaro Jambi. Percandian ini berada di tengah hutan tepian Sungai Batanghari dan membentang dari timur ke barat sepanjang 7,5 kilometer. Jarak dari Kota Jambi ke Kompleks percandian ini kurang lebih sejauh 30 kilometer.
Secara astronomis Kawasan Muaro Jambi berada pada 103o 22’ BT hingga 103o 45 ” BT dan 1o 24’ LS hingga 1o 33’ LS. Secara administratif daerah-daerah yang tercakup dalam Kawasan Muaro Jambi meliputi tujuh wilayah desa, yaitu Desa Dusun Baru, Desa Danau Lamo, Desa Muaro Jambi, Desa Kemingking Luar dan Desa Kemingking Dalam, Desa Teluk Jambu, dan Desa Dusun Mudo. Ketujuh desa tersebut termasuk dalam wilayah Kecamatan Maro Sebo dan Taman Rajo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi (Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 2004).
Candi Muaro Jambi diperkirakan berdiri sejak abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi, namun berdasarkan situs pemprov jambi diperkirakan reruntuhan candi dan sisa-sisa pemukiman kuno dalam kompleks percandian ini berdiri di rentang abad 9-15 Masehi. Kompleks Percandian ini diperkirakan merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu dan merupakan salah satu situs arkeologi paling penting di Indonesia. Peninggalan ini merupakan bukti sejarah penting tentang kehadiran agama Buddha di Nusantara pada masa itu.
Nama Muarajambi kali pertama muncul dari laporan seorang perwira angkatan laut Kerajaan Inggris bernama S.C. Crooke sekitar pada tahun 1820-an yang melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer. Crooke melaporkan bahwa ia melihat reruntuhan bangunan dan menemukan satu arca yang menggambarkan arca Buddha. Keterangan Crooke ini kemudian dibenarkan oleh seorang warga negara belanda yang berkunjung ke Jambi pada tahun 1921, T. Adam. Hanya saja Adam tidak menyebutkan peninggalan-peninggalan lain di luar bangunan dan arca.
Tiga belas tahun setelah keterangan dari T. Adam, seseorang bernama F.M.Schnitger mengunjungi Jambi. Ia memberikan beberapa informasi tambahan tentang nama-nama candi baru selain Astano, yaitu Gumpung, Tinggi, Gunung Perak, Gudang Garem, Gedong I, dan Gedong II. Schnitger sempat melakukan ekskavasi pada bagian dalam sejumlah candi (Mundardjito, 1995, 1996; SPSP Jambi, 1999, 2000).
Pada tahun 1975, pemerintah Indonesia mulai melakukan pemugaran yang serius dan dikepalai oleh R. Soekmono. Dalam proses pemugaran, baru sekitar sembilan bangunan yang telah dipugar dan kesemuanya adalah bercorak Buddhisme. Sembilan candi tersebut adalah Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano.
Kompleks percandian Muaro Jambi terletak di hutan tepian Sungai Batanghari. Situs ini diperkirakan berisi 110 candi yang sebagian besar masih berupa gundukan tanah (menapo) yang belum dikupas/diokupasi. Dalam kompleks percandian ini terdapat pula beberapa bangunan berpengaruh agama Hindu.
Di dalam kompleks Muaro Jambi, tidak hanya terdapat candi tetapi juga ditemukan parit atau kanal kuno buatan manusia, kolam penampungan air, dan juga beberapa menapo lainnya yang diduga masih terdapat struktur bata kuno di dalamnya. Selain itu diperkirakan ada sekitar 85 buah menapo yang masih dimiliki oleh penduduk setempat.
Melalui observasi kepustakaan dan lapangan, diperoleh data mengenai situs-situs yang terdapat di Kawasan Muaro Jambi yang berupa candi, menapo, kanal-kanal kuno, dan danau atau kolam kuno. Situs-situs tersebut antara lain: Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Tinggi, Candi Kembarbatu, Candi Gedong I, Candi Gedong II, Candi Astano, Candi Kedaton, Candi Kotomahligai, Candi Teluk I, Candi Teluk II, Menapo Kasih, Menapo Selat, Menapo Durian Sakat, Menapo Sialang I, Menapo Kedongdong, Menapo Buluran Keli, Kolam Telagarajo, kanal-kanal kuno dan Bukit Sengalo atau Bukit Perak.
Pada kawasan Muaro Jambi, selain situs-situs tersebut ada satu bangunan yang diberi nama Pusat Informasi Kawasan Percandian Muarajambi. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan, menyelamatkan dan memamerkan koleksi hasil temuan penelitian maupun hasil temuan masyarakat. Bangunan tersebut berada 50 meter di sisi selatan dari pagar keliling Candi Gumpung.
Dari sekian banyak temuan, candi-candi yang sudah dibangun dan bisa dikunjungi wisatawan adalah Candi Vando Astano, Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kembar Batu, Candi Gedong 1, Candi Gedong 2, dan kolam Talaga Rajo. Juga terdapat Kanal-Kanal Tua yang mengelilingi komplek Percandian ini. Lokasinya tersebar di Desa Muaro Jambi, Kemingking Dalam, dan Danau Lamo.
Meskipun sejarah pasti Candi Muaro Jambi masih menjadi misteri, para ahli percaya bahwa kompleks ini digunakan untuk upacara keagamaan, meditasi, dan pendidikan agama Buddha. Candi-candi ini juga mungkin digunakan sebagai tempat peristirahatan para biksu. Makna dan fungsi sebenarnya dari candi-candi ini tetap menjadi objek penelitian yang mendalam.
Sobat Darling, penting untuk diingat bahwa Candi Muara Jambi adalah warisan berharga Indonesia yang perlu dilindungi. Banyak upaya pelestarian telah dilakukan untuk menjaga keindahan dan sejarah candi ini. Saat mengunjungi, Anda juga dapat belajar tentang upaya konservasi dan bagaimana Anda dapat berkontribusi dalam menjaga warisan budaya ini agar tetap lestari.
Sebelum mengakhiri artikel mengenai falta candi megah Muaro Jambi, jangan lupa untuk membagikan artikel ini, dan berikan tanggapan sobat darling di sosial media dengan menyertakan Tag @siapdarling untuk menginspirasi teman-teman Sobat Darling lainnya dalam menjaga keindahan alam dan warisan budaya Indonesia.
sumber gambar : https://wonderfulimages.kemenparekraf.go.id/read/972/candi-muaro-jambi
sumber referensi :