Fenomena menakjubkan terjadi di laut Buton, Sulawesi Tenggara nih Darlings. Ratusan paus kepala melon (Peponocephala electra) bermigrasi melalui perairan dan terlihat muncul di permukaan laut.
Warga pun langsung heboh, banyak yang mengabadikan momen sirip-sirip mereka yang membelah ombak secara serentak. Pemandangan kayak gini nggak tiap hari bisa kita lihat.
Laut Buton sendiri memang jadi salah satu jalur migrasi penting buat mamalia laut—mulai dari paus sampai lumba-lumba. Perairan Indonesia timur itu ibarat highwaynya biota laut karena arus dan suhu airnya mendukung.
Menariknya, walau namanya paus, secara taksonomi satwa ini sebenarnya masih keluarga lumba-lumba samudra dalam famili Delphinidae. Jadi bentuk tubuhnya lebih ramping, kepalanya membulat, yang karenanya disebut kepala melon, dengan warna abu-abu gelap cenderung hitam.
Mereka hidup di perairan tropis dan subtropis yang hangat, termasuk Indonesia timur dan Filipina. Biasanya lebih suka laut lepas yang dalam, bukan perairan dangkal dekat pantai.
Sebagai makhluk sosial, paus kepala melon terkenal kompak. Sekali jalan bisa ratusan bahkan ribuan ekor dalam satu kelompok besar. Mereka berkomunikasi pakai suara frekuensi tinggi buat navigasi dan cari makan.
Biasanya mereka makan ikan kecil, cumi-cumi, dan organisme laut lainnya.
Tapi, di balik momen indah ini, ada ancaman yang nggak kelihatan, Darlings. Selain perburuan ilegal, mereka juga rentan terhadap tersangkut jaring, polusi laut dan sampah plastik, juga kebisingan kapal besar yang mengganggu sistem navigasi mereka.
Tak jarang dalam migrasi tersebut, mereka diburu oleh manusia. Hal tersebut sebenarnya ilegal ya, Darlings.
Karena satwa ini sebenarnya dilindungi oleh undang-undang dan dikategorikan oleh IUCN Red List dalam kategori least concern (LC).
Fenomena migrasi ini jadi pengingat kalau laut kita masih jadi rumah buat makhluk luar biasa. Tapi rumah itu cuma aman kalau kita ikut menjaganya.
Kalau kita masih mau lihat mereka berenang bebas di habitat aslinya, kita juga harus mulai dari hal simpel: kurangi sampah plastik, dukung perikanan berkelanjutan, dan nggak diam kalau lihat eksploitasi satwa liar.
Nggak cuma kagum, tapi juga peduli. Karena jadi generasi muda itu bukan cuma soal gaya, tapi juga soal tanggung jawab kita terhadal alam.
Penulis: Hasbi