Darlings, kamu tahu kan kalo gajah pada dasarnya punya daya ingat yang luar biasa?
Bagi gajah, rimbun hutan di pulau Sumatera adalah kain besar yang telah ditenun nenek moyang mereka sendiri.
An elephant never forgets. Mereka punya ingatan yang diwariskan buat nentuin jalur migrasinya.
Namun apa yang terjadi jika ingatan ini mesti diubah akibat perbuatan manusia?
Nah, inilah tragedi yang mesti dialami oleh gajah sumatra (Elephas maximus sumatrensis) kita karena mereka mesti mengubah jalur migrasi mereka karena bencana alam yang terjadi di Sumatera tahun lalu, dan berimbas kepada banyak aspek.
Mencari jalur tanpa ingatan
Jalur mereka yang terputus menyebabkan gajah mesti mencari rute alternatif.
Sebab, pada dasarnya, gajah adalah pengembara sejati. Mereka punya jalur jelajah tetap untuk mencari makanan dan air.
Sungai yang berpindah haluan, longsor yang menutup akses dan vegetasi yang semakin mengerucut membuat mereka kesulitan.
Sumber air mereka menjadi hilang, tempat mereka beristirahat dan tempat mereka biasa makan juga tersapu bencana.
Karena jalur lama telah rusak, gajah-gajah yang mencari jalur lain memunculkan konflik baru yang memicu polemik berkepanjangan:
Konflik dengan manusia.
Konflik gajah dan manusia
Coba kamu perhatiin deh, konflik yang terjadi antara gajah dan manusia pasca bencana hidrometeorologi di Sumatera.
Hal tersebut diidentifikasi akibat adanya perubahan jalur jelajah satwa, dan ini diamini oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Kepala BKSDA Aceh Ujang Wisnu Barata mengatakan bahwa gangguan habitat ini menjadi latar belakang munculnya gajah liar di area perkebunan.
“Selain karena kerusakan infrastruktur mitigasi (gajah), terdapat kemungkinan habitat dan jalur jelajah satwa liar mengalami perubahan,” kata dia.
Ketidakteraturan pola pergerakan gajah ini, terjadi di Desa Panten Lah, Kabupaten Bener Meriah. Seorang warga bernama Musahar (53) ditemukan terinjak gajah liar di area kebun jagung miliknya.
Di sisi lain, baru-baru ini di awal bulan Februari 2026, seekor gajah sumatra ditemukan mati di Riau di area konsesi lahan milik manusia.
Selain itu, dilaporkan satu blok mes karyawan di Desa Rantau Bertuah, Kabupaten Siak, hancur dilewati oleh 11 kawanan gajah sumatra liar pada Minggu (22/2).
Hal ini menjadi bukti kalo kerusakan habitat dan alam oleh manusia, dapat berimbas kepada manusia lainnya.
Gajah sumatra kebingungan mencari rumahnya
Pada akhirnya, gajah-gajah bukan sengaja menghancurkan. Mereka hanya sedang kebingungan mencari sobekan kain yang hilang dalam ingatan mereka.
Ketika rumah mereka luluh lantak oleh bencana dan dipersempit oleh tangan manusia, mereka terpaksa melangkah di jalur yang asing.
Jalur yang sayangnya membawa mereka berhadapan langsung dengan kita.
Tragedi-tragedi ini menjadi alarm keras bagi kita semua. Bahwa saat kita merusak keseimbangan alam, kita sebenarnya sedang merusak jaring pengaman hidup kita sendiri.
Because an elephant never forgets, and we shouldn't either, Darlings.