Darlings pernah gak kamu makan bubur di plastik dan styrofoam, plus gak dibersihin sisa buburnya?
Nah, ada satu dosa kecil yang sering kita lakukan setiap hari tanpa sadar: membuang sisa makanan langsung ke tempat sampah tanpa dipilah.
Kita sering berpikir, "Ah, cuma sisa bubur, nasi, atau pisang kan organik, nanti juga hancur sendiri." Tapi kenyataannya, sisa makanan yang kita buang itu bisa berubah jadi "bom waktu" yang siap meledak dan merusak bumi kita.
Memicu Gas Metana
Mari kita bicara sains sebentar, tapi versi yang lebih seru. Saat sisa makanan organik tertimbun di TPA (Tempat Pembuangan Akhir), mereka nggak hancur secara cantik seperti saat jadi kompos di taman. Karena tertumpuk berton-ton sampah plastik dan kertas, sisa makanan ini kehilangan akses ke oksigen.
Kondisi tanpa oksigen ini disebut dekomposisi anaerobik. Nah, disinilah dramanya dimulai. Proses ini menghasilkan Gas Metana (CH4).
Tahu nggak? Gas metana ini 25 kali lebih kuat daripada CO2 dalam hal memerangkap panas di atmosfer bumi. Jadi, secara teknis, sisa salad yang kamu buang itu berkontribusi langsung pada cuaca Jakarta yang makin hari makin bikin makeup luntur alias makin panas!
Realitanya, di Indonesia, situasi ini bukan cuma sekadar teori. Kamu pasti tahu TPA Bantar Gebang, kan? Atau mungkin TPA lokal di kota-kota besar lainnya yang sudah overcapacity. Berdasarkan data, lebih dari 50% sampah yang masuk ke TPA kita adalah sampah organik (sisa makanan).
Nah, pada 2005 silam, TPA Leuwigajah Cimahi, pernah terjadi bencana yang disebabkan ledakan gas metana dari dalam tumpukan sampah, yang memicu longsor besar dan menelan ratusan nyawa.
Mantan Walikota Cimahi Itoc Tochija dalam bukunya “Tragedi Leuwigajah” menyebutkan bahwa peristiwa ini menjadi terparah kedua di dunia setelah kejadian serupa terjadi di TPA Payatas, Quezon City, Filipina yang menewaskan lebih dari 200 orang.
Itu adalah bukti nyata bahwa tumpukan sampah organik kita benar-benar bisa jadi "bom" yang meledak. Selain risiko ledakan, gas ini juga bikin bau TPA jadi sangat menyengat dan mengganggu warga sekitar.
Sebagai Gen Z yang sibuk, alasan paling klasik adalah: "Ribet dan bau!" Memang sih, punya wadah sampah organik di apartemen atau kosan itu berisiko mengundang semut atau aroma kurang sedap.
Tapi hey, ada banyak cara chic untuk mengatasinya! Kamu bisa pakai metode Bokashi atau wadah kompos kedap udara yang desainnya estetik banget buat ditaruh di dapur.
Memilah sampah organik adalah cara tercepat dan paling nyata yang bisa kita lakukan untuk melawan perubahan iklim.
Saat kita memisahkan sisa makanan dan menjadikannya kompos, kita memutus rantai produksi gas metana tersebut. Plus, kamu dapat pupuk gratis buat tanaman monstera atau kaktus kesayanganmu di balkon!
Networking itu penting, tapi networking dengan alam itu jauh lebih krusial. Yuk, mulai hari ini coba terapkan langkah sederhana ini:
Pilah dari Sumbernya: Sediakan satu wadah khusus sisa makanan. Jangan dicampur dengan plastik bekas paket belanjaanmu.
Habiskan Makanan: Cara paling pro untuk tidak menghasilkan sampah organik adalah dengan memesan makanan sesuai porsi. Sustainable living is the new luxury.
Dukung Pengolah Sampah Lokal: Sekarang sudah banyak startup di Indonesia yang siap menjemput sampah organikmu untuk diolah jadi pakan maggot atau kompos.
Menjadi keren di kota besar bukan cuma soal punya gadget terbaru atau baju branded. Menjadi keren adalah saat kita peduli dengan apa yang kita tinggalkan di bumi.
Jangan biarkan sisa makananmu jadi bom yang bikin deg-deg ser masa depan kita, ya Darlings!
Sumber:
Tochija, Itoc. (2010). Tragedi Leuwigajah: Sebuah Refleksi Pengelolaan Sampah. (Buku ini merupakan sumber primer mengenai kronologi dan dampak ledakan metana di Cimahi).
Humas Jabar / SIPSN (Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional): sipsn.menlhk.go.id – Sumber data komposisi sampah organik di Indonesia yang mencapai >50%.
Kompas.com: "Mengenang Tragedi Longsor Sampah Leuwigajah 21 Februari 2005".