Kamu sering belanja? Baik itu buat keperluan rumah maupun keinginan kita sendiri kan. Saat ini, kita memang hidup di dalam masyarakat yang menerapkan iklim konsumtif, yang mana semua hal harus kamu beli mulai dari kebutuhan dasar sampai keinginanmu.
Tak apa-apa jika kamu berjiwa konsumtif, namun perlu diketahui bahwa sebagian besar produk yang kamu beli ini mempunyai kemasan sekali pakai yang tidak memikirkan keberlanjutan masa depan bumi. Sehingga, bekas kemasan produk ini menjadi sampah yang menumpuk dan baru bisa terurai sampai puluhan tahun atau bahkan tanpa kita sadari.
Nah, belakangan ini sering sekali terdengar istilah “Zero Waste Lifestyle”. Terkesan ribet, mahal, dan sulit dilakukan bagi sebagian masyarakat. Apalagi buat kalian yang anak kosan. Apa iya? Yuk, simak ulasannya berikut ini.
Zero waste adalah filosofi yang dijadikan sebagai gaya hidup demi mendorong siklus hidup sumber daya sehingga produk-produk yang bisa digunakan kembali. Zero waste juga soal menjauhi single use plastic atau plastik sekali pakai.
Zero waste tidak mengenai mendaur ulang (Recycle), tapi juga menolak (Refuse), mengurangi (Reduce), dan menggunakan kembali (Reuse) yang merupakan cara paling mudah dari prinsip zero waste. Setelah Recycle, ada satu cara lagi agar produk yang kamu pakai tidak membekas yakni membusukkan (Rof).
Kalian anak kos? Udah mulai pindah ke zero waste lifestyle belum? Zero waste merupakan sebuah perjalanan, membuat nol sampah di kosan mungkin agak sulit, tetapi mencoba meminimalisir jumlah sampah dan memanage adalah aksi zero waste yang tepat. Berikut ini adalah tipsnya:
Seperangkat alat yang digunakan untuk mempermudah kita dalam minim sampah, seperti tempat makan, tumbler untuk minum, tas belanja, sapu tangan sebagai pengganti tisu, sendok/garpu atau sedotan jika dibutuhkan. Tak usah membeli, karena kamu bisa menggunakan barang yang kamu bawa dari rumah.
Mulailah bertanggung jawab atas sampah yang kamu hasilkan dengan memilah dan mengolah sampah menjadi hal-hal yang berguna. Kamu bisa jadikan eco enzyme (kompos) dari sampah organik, sedangkan untuk sampah anorganik bisa dijadikan eco brick.
Selain karena harganya yang murah, pembalut sekali pakai akan menghasilkan banyak sampah plastik dan mengandung dioxin yang dapat menyebabkan kanker.
Setiap kali melaundry baju, para jasa laundry akan mengemas pakaian yang sudah dicuci dan disetrika dengan kemasan plastik yang sangat besar, sehingga tidak terpakai dan menjadi sampah di kosan. Benar nggak sobat darling?
Kebiasaan yang sering dilakukan oleh kebanyakan anak kos yakni memesan makan melalui gofood atau grabfood. Praktis dan ekonomis, kebiasaan ini menimbulkan dampak kesehatan dan lingkungan karena makanan akan dikemas plastik atau styrofoam yang akhirnya menumpuk di kosan.
Menyehatkan lingkungan dengan mengurangi sampah memang agak sulit untuk membiasakannya. Kesibukan bukanlah jadi alasan, karena setiap pekerjaan itu dapat terselesaikan asal kita “mau mencoba”. Terus semangat yaaa anak kos!.***
Sumber: