Kalau belakangan beberapa wilayah Indonesia sudah mulai sering diguyur hujan, bukan berarti dampak El Niño sudah selesai, Darlings. Hujannya juga belum merata. Di sejumlah daerah, musim kemarau masih berlangsung dan kondisi kering masih perlu diwaspadai. BMKG memprediksi fenomena El Niño akan bertahan hingga awal 2027, sementara World Meteorological Organization (WMO) memperkirakan fenomena ini berpeluang bertahan sampai Februari 2027.
El Niño sendiri merupakan fenomena iklim yang berkaitan dengan peningkatan suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik tropis. Perubahan kondisi laut ini kemudian dapat memengaruhi pola hujan dan suhu di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia. Pada September 2026, WMO menyebut El Niño telah terbentuk dan diperkirakan menguat menjadi sangat kuat. Fenomena ini meningkatkan risiko perubahan pola hujan dan suhu, termasuk kekeringan dan cuaca ekstrem di sejumlah wilayah.
Di Indonesia, dampaknya paling terasa ketika El Niño berbarengan dengan musim kemarau. BMKG menyebut kondisi tersebut dapat memperpanjang periode kering dan meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan. Dalam prediksi terbaru, awal musim hujan 2026/2027 juga diperkirakan mengalami kemunduran di 529 Zona Musim atau sekitar 61,08% wilayah Indonesia. Sebagian besar wilayah baru memasuki musim hujan pada November atau Desember 2026.
Kondisi seperti ini tentu nggak berhenti di urusan cuaca. Kekeringan bisa berpengaruh pada ketersediaan air, pertanian, ekosistem, sampai aktivitas sehari-hari. Ketika hujan datang lebih lambat atau periode tanpa hujan berlangsung lebih panjang, kebutuhan air juga perlu dikelola dengan lebih bijak. Petani dapat menghadapi risiko kekurangan air untuk tanaman, sementara masyarakat di wilayah yang mengalami kekeringan bisa menghadapi keterbatasan sumber air bersih. BMKG juga menyoroti risiko kebakaran hutan dan lahan yang meningkat selama kondisi kering masih dominan.
Kita memang nggak bisa mengatur kapan hujan turun atau kapan suhu berubah. Tapi setidaknya, kita bisa lebih siap menghadapi kondisi yang ada. Caranya juga nggak harus ribet. Mulai dari menggunakan air seperlunya, nggak membiarkan keran menyala tanpa kebutuhan, dan lebih memperhatikan penggunaan air di rumah. Kalau mau bepergian, cek prakiraan cuaca terlebih dahulu supaya nggak berangkat tanpa persiapan. Payung atau jas hujan bisa masuk tas ketika kondisi cuaca memang berpotensi berubah. Dan seperti biasa, bawa tumbler supaya kita nggak perlu sering membeli minuman dalam kemasan sekali pakai.
Perubahan cuaca mungkin terasa di luar kendali kita. Tapi cara kita meresponsnya bisa dimulai dari hal-hal yang dekat dengan keseharian. Jadi, Darlings, sambil menunggu hujan datang lebih merata dan mengurangi risiko dampaknya, yuk lebih bijak menggunakan air, bawa payung atau jas hujan, bawa tumbler, dan tetap update dengan informasi cuaca dari sumber resmi.