Choose a Language

Auman yang Masih Terdengar di Rimba Hutan Muria

Berita Darling
Darling Fauna
Darling Inspirasi
Auman yang Masih Terdengar di Rimba Hutan Muria
11 Mar 2026

Misterius, lincah dan keren dengan motif yang bikin orang-orang takjub. 

Bukan, kita gak lagi ngomongin influencer Tik Tok, kok. Kita lagi bahas soal sang raja yang ditemukan berkeliaran di Gunung Muria, macan tutul jawa.

Tahun lalu, Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) membawa kabar bahagia bagi para peneliti. Kehadiran mereka yang terekam kamera jebak menjadi bukti nyata bahwa spesies ini masih ada dan terjaga kelestariannya di wilayah gunung ini.

Spesies karismatik penjaga keseimbangan alam ini merupakan satu-satunya kucing besar sekaligus predator puncak di ekosistem Pulau Jawa sejak harimau jawa punah. Keberadaannya mesti dijaga, sebab statusnya terancam punah menurut IUCN Red List.

Kucing besar ini memiliki sifat-sifat yang membedakan dari kucing besar lain selain harimau.

Ia adalah predator generalis, bisa memakan jenis mangsa seperti tikus, burung, kelelawar hingga rusa dan babi. Hal tersebut membuatnya lebih fleksibel ketimbang harimau, yang mesti memangsa hewan besar berukuran 30 kilogram lebih.

Selain itu, macan adalah satwa adaptif. Ia bisa hidup di berbagai habitat ekstrem. Di Rusia, ia hidup di cuaca bersalju. Di Iran, ia hidup dalam habitat gurun, dan di Indonesia, ia bahkan bisa hidup di puncak gunung atau dataran rendah seperti mangrove.

Macan tutul jawa - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Macan tutul jawa, sumber: wikipedia.com

Cara mereka berkembang biak pun bikin kita tetap optimis, kalo macan tutul jawa ini bisa hidup lebih banyak. Sistem perkawinannya bersifat promiscuous, jantan dan betina tuh tidak terikat dalam pasangan tetap.

Hal ini dikatakan oleh Peneliti Riset Konservasi Macan Tutul Jawa di BRIN, Prof. Hendra Gunawan, “Spesies ini bukan tipe yang monogami seumur hidup yang lebih rentan dengan kepunahan jika kehilangan pasangan.”

Macan tutul jawa dan macan kumbang apa bedanya?

Ternyata, macan tutul jawa dan macan kumbang sama, guys. Yang membedakan hanyalah warna yang diakibatkan fenomena melanisme, pigmen gelap yang menutupi pola tutulnya. Sebab jika diperhatikan dari dekat, macan kumbang juga memiliki tutul.

Uniknya, melanisme ini tuh hanya terjadi pada macan tutul jawa dan gak ditemuin di subspesies macan lain seperti di India, Afrika, Indochina atau Iran.

Macan Tutul dan Macan Kumbang : Satu Jenis Hanya Beda Warna
Macan kumbang, sumber: Javan Wildlife Magazine

“Ini topik menarik karena ada kemungkinan berkaitan dengan adaptasi terhadap hutan tropis yang lebat di Indonesia. Warna gelap membantunya tersamar di habitat yang lebih gelap, berbeda dengan tutul khas yang berfungsi sebagai kamuflase,” jelas Hendra pada Mongabay.

Macan tutul jawa di Gunung Muria

Di Gunung Muria, konservasi macan tutul jawa dilakukan agar berdampingan dengan manusia. Di Dusun Pondokan, kandang-kandang ternak warga dilakukan penguatan yang diinisiasi oleh Djarum Foundation.

Kandang warga diberi tambahan pengaman pagar kayu agar kepala ternak yang menjulur ke luar kandang ketika makan gak bisa dijangkau oleh macan tutul.

Selain itu, warga juga berinisiatif membuat penerangan yang lebih oke di sekitar kandang. Sebagai satwa nokturnal, biasanya macan tutul hanya menyambangi perkampungan pada bulan-bulan tertentu.

Tiap kali ada ternak yang diserang macan tutul, warga kemudian melapor kepada Peka Muria, organisasi konservasi nirlaba yang fokus pada alam Gunung Muria. 

“Macan tutul gak pernah menyerang warga karena dia menghindari manusia. Jika macan tutul turun ke perkampungan, tak lepas dari perambahan dan alih fungsi lahan di lereng Gunung Muria,” jelas Ketua Peka Mura Teguh Budi Wiyono kepada Kompas.

Pendakian Gunung Muria, Persiapkan Bersama EIGER Adventure!
Kaki gunung muria, sumber: eigeradventure.com

Sebagai satwa prioritas yang dilindungi di Gunung Muria, macan tutul juga dipercaya sebagai hewan sakral yang menjadi sahabat Sunan Muria. Jika kamu berkunjung ke sana, kamu akan temukan pintu kayu yang menampilkan jejak ukiran macan di makam Sunan Muria. Warga juga memanggil macan tutul dengan sapaan lain, yakni “Kiai”.

Djarum Foundation terlibat dalam konservasi macan tutul di Muria sejak 2017. Dengan pendanaan dari Djarum Foundation pula, Peka Muria selanjutnya bekerja sama dengan Yayasan Sintas Indonesia memantau keberadaan macan tutul di Muria dengan pemasangan 80 kamera trap di 40 titik. Hasil pemantauan mendeteksi 14 individu macan tutul di Muria, yang terdiri dari 9 jantan dan 5 betina.

Kira-kira, menurutmu apa lagi yang bisa kita lakukan supaya 'Sang Kiai' ini nggak benar-benar hilang dari hutan kita? 

 

Penulis : Hasbi