Choose a Language

Bumi Makin Panas, Pikiran Ikut Runyam: Saat Gen Z Dilanda Eco-Anxiety

Darling Energi
Berita Darling
Darling Inspirasi
Bumi Makin Panas, Pikiran Ikut Runyam: Saat Gen Z Dilanda Eco-Anxiety
06 Jul 2026

Cuaca sekarang emang beda. Panas kadang nggak masuk akal, hujan dateng kapan aja tanpa aba-aba, dan banjir udah kayak tamu langganan di beberapa daerah. 

Buat anak muda Indonesia, isu iklim bukan lagi berita yang cuma numpang lewat di linimasa tau. Ini udah nyangkut ke ranah kehidupan kita sehari-hari, bikin resah soal masa depan yang serasa nggak sepenuhnya bisa dikontrol.

Riset dari Karbon Hero mencatat bahwa mayoritas besar anak muda Indonesia, sekitar 89 persen, mengaku diliputi rasa takut, cemas, atau ngerasa nggak berdaya pas mikirin krisis iklim. 

Kondisi ini dinamakan eco-anxiety. Simpelnya, ini kecemasan yang muncul begitu seseorang sadar ancaman lingkungan itu nyata, tapi ngerasa apa yang dia lakuin kayaknya kekecilan buat bikin perubahan berarti. 

UNICEF sendiri bilang, reaksi semacam ini sebenernya wajar-wajar aja sebagai respons terhadap bahaya lingkungan yang beneran ada.

Biasanya rasa cemas ini nggak dateng tiba-tiba, tapi numpuk pelan-pelan. Mulai dari scroll berita cuaca ekstrem, sampai banjir yang nggak kunjung selesai. 

Ujung-ujungnya muncul capek secara emosional, rasa bersalah, dan pertanyaan yang muter-muter di kepala: sebenernya gue bisa ngapain, sih?

Peduli Kok Malah Bikin Capek

Syifa Lutfiana melalui DW Indonesia, yang baru aja lulus kuliah, cerita kalau berita soal krisis iklim sering bikin dia kewalahan. Dia ingin banget ikut aksi atau nyumbang, tapi bingung mesti mulai dari mana, akhirnya cuma berujung scroll berita sampai lelah sendiri.

Cerita Liani nggak jauh beda, malah lebih personal. Tinggal di area langganan banjir bikin dia ngerasain langsung dampak perubahan iklim. Tiap kali hujan deras turun, kecemasan otomatis muncul. Dia jadi mikir, apa kondisi kayak gini bakal terus berlanjut selamanya.

Sementara itu, melalui media yang sama, Khusnul Purwanti punya pergumulan yang agak beda. Di satu sisi dia capek dan cemas, tapi di sisi lain dia juga nggak mau kehilangan rasa peduli. 

Dia ngerasa bersalah karena ngerasa belum cukup berkontribusi, sampai kadang sengaja jeda dulu biar nggak overthinking tapi tetap sadar nggak boleh jadi apatis, karena kalau bukan generasinya yang gerak, siapa lagi.

Tiga cerita ini nunjukin sisi lain dari eco-anxiety: di balik niat baik buat peduli sama bumi, ada beban mental yang nggak kecil. Makin melek soal krisis iklim, makin berat juga beban emosional yang harus dipikul.

Ada Penjelasan Psikologisnya

Psikolog klinis Maria Hanafie menjelaskan bahwa eco-anxiety muncul saat seseorang paham betul ancaman lingkungan itu nyata, tapi merasa ruang geraknya buat ngatasin masalah itu terbatas banget.

Menurutnya, kondisi ini sering memicu konflik batin di kalangan anak muda. Mereka pengin berbuat sesuatu, tapi bingung dari mana harus mulai. Hasilnya: kelelahan emosional, rasa bersalah, sampai keinginan buat menjauh sejenak dari berita-berita iklim demi jaga kesehatan mental.

Tapi Maria menegaskan, ambil jeda bukan berarti berhenti peduli. Istirahat sebentar dari banjir informasi, cerita ke orang terdekat, atau gabung komunitas yang punya keresahan serupa bisa jadi cara buat ngurangin beban psikologis. 

Setelah itu, langkah-langkah kecil kayak ikut kegiatan lingkungan atau proyek komunitas bisa bantu ubah rasa nggak berdaya jadi pengalaman yang lebih berarti.

Riset dari Universitas Indonesia juga menemukan bahwa eco-anxiety lebih banyak dialami remaja perempuan, pelajar, dan orang-orang yang tinggal di perkotaan. 

Di sisi lain, studi Monash Lens menyoroti bahwa kurangnya pemahaman soal dampak gelombang panas terhadap kesehatan mental turut memperberat tekanan psikologis anak muda di Asia Tenggara.

Harapan Dimulai dari Langkah Sederhana

Selama krisis iklim masih berlangsung, eco-anxiety kemungkinan juga nggak bakal ilang begitu aja. Tapi rasa cemas itu sebenernya bisa jadi sinyal positif — tanda bahwa seseorang masih punya kepedulian.

Selama ada ruang buat memproses emosi dengan sehat, kecemasan itu bisa berubah jadi dorongan buat bertindak.

Pada akhirnya, jaga kesehatan mental dan jaga bumi itu bukan dua hal yang saling berlawanan. Sebab, perubahan besar nggak selalu lahir dari aksi yang heboh dan spektakuler, tapi juga dari langkah-langkah kecil yang dilakukan konsisten oleh banyak orang. Tetap jaga kesehatan kamu ya, Darlings!

Penulis : SD