Choose a Language

Burung Cucak Rowo: Dari Lirik Lagu Ikonik ke Sangkar Peliharaan

Berita Darling
Darling Fauna
Darling Inspirasi
Burung Cucak Rowo: Dari Lirik Lagu Ikonik ke Sangkar Peliharaan
27 Apr 2026

Darlings, siapa sih yang nggak tahu lagu "Cucak Rowo" karya The Godfather of Broken Hearts, Didi Kempot? Tapi tahu nggak, di balik liriknya yang ikonik, nasib burung asli Indonesia ini lagi di ujung tanduk, lho.

Yuk, kita kenalan lebih dekat sama si cucak rowo ini dan kenapa kita harus mulai peduli!

Si Cantik dengan Suara "Mahal"

Secara ilmiah, burung ini bernama Pycnonotus zeylanicus. Penampilannya sebenarnya cukup chic dengan "penutup telinga" berwarna jingga dan paruh hitam yang tegas. Ukuran tubuhnya sekitar 28-29 cm—pas banget buat jadi pusat perhatian.

Di alam liar, Cucak Rawa adalah penghuni setia hutan tua dan semak belukar di Sumatra, Kalimantan, dan Jawa bagian barat. Suaranya? Jangan ditanya. Berat, keras, dan sangat merdu. Inilah yang bikin dia jadi incaran.

 

Sebagai status sosial

Ada fakta menarik sekaligus miris yang diungkap oleh Achmad Ridha Junaid, Biodiversity Conservation Officer Burung Indonesia. Ternyata, memelihara Cucak Rawa itu sudah jadi budaya yang mengakar kuat, terutama di Jawa.

"Konon, orang-orang yang pelihara Cucak Rawa cuma orang-orang yang punya status sosial tinggi. Dari sini pun akhirnya popularitasnya naik," kata Ridha kepada Garda Animalia.

Karena dianggap sebagai simbol status dan punya suara merdu, burung ini diburu habis-habisan untuk perdagangan burung kicau. Efeknya? Populasi Cucak Rawa di Pulau Jawa sudah dinyatakan punah. Sekarang, mereka hanya bisa ditemukan secara alami di Sumatra, itu pun sudah langka sekali.

 

Statusnya: Critically Endangered, tapi…

Ini dia plot twist yang bikin kita harus elus dada. Menurut IUCN Red List (2021), Cucak Rawa sudah berstatus Critically Endangered atau satu langkah lagi menuju kepunahan di alam liar.

Bayangkan, populasinya turun lebih dari 80% hanya dalam waktu 15 tahun! Saat ini, diperkirakan hanya tersisa 600 sampai 1.700 individu saja di dunia.

Tapi ironisnya, di Indonesia sendiri, burung ini belum masuk dalam daftar satwa yang dilindungi.

"Tekanan dari perburuan ilegal terus berlangsung dan menempatkan spesies ini pada risiko tinggi untuk punah jika tidak ada upaya konservasi yang efektif," tambah Ridha.

 

Musuh Terbesar: Bukan satwa predator, tapi Kita

Kalau dulu musuh alaminya adalah ular atau predator hutan, sekarang justru yang membuat populasinya sedikit adalah manusia. 

Perburuan liar untuk hobi burung sangkar plus hilangnya habitat (hutan dan rawa yang berubah jadi lahan pertanian atau beton) bikin ruang gerak mereka makin sempit.

Darlings, be a smart Gen Z! Menikmati kicauan burung itu memang indah, tapi akan jauh lebih indah kalau suara itu terdengar langsung dari dahan pohon di hutan, bukan dari balik jeruji sangkar. 

Yuk, kita mulai aware bahwa hobi kita lebih bertanggung jawab dan peliharaan ini lebih cocok di alam liarnya sendiri.

Penulis : SD