Choose a Language

Dari Burger Juicy Luicy Mahalini, ke Burger Masa Depan yang Lebih Ramah Lingkungan

Berita Darling
Darling Inspirasi
Dari Burger Juicy Luicy Mahalini, ke Burger Masa Depan yang Lebih Ramah Lingkungan
16 Apr 2026

Ada yang familiar dengan jargon ini gak, Darlings, “Aldi’s Burger cempaka putih rotinya lembut dagingnya Juicy Luicy Mahalini Rizky Febian bisa pesen online”?

Ngakak banget deh sama cara-caranya Aldi Taher dalam mempromosikan burgernya. Bisnis burgernya punya promosi yang unik dan nyeleneh lewat Threads, Instagram dan platform sosial media lainnya.

Yang unik, kalo kehabisan stok, kamu bakal direkomendasiin burger-burger kompetitor Aldi’s Burger seperti Burger Bangor, Lawless Burger, Burger King, hingga Burger yang ada di permen Yupi!

Ketika pemilik bisnis lain mati-matian ‘menjatuhkan’ lawan, justru Aldi Taher melakukan reverse psychology, di mana ia bersikap tulus dan justru membangun trust dengan pelanggan. Kocak abis dan jenius!

Namun di balik promosi dengan jargon unik dan otentik itu, ada juga loh tren yang juga lagi naik daun di ‘scene’ burger, yakni burger yang lebih ‘hijau’ dan ramah lingkungan.

 

Mengapa Kita Harus Peduli?

Burger memang nikmat, tumpukan roti empuk, sayuran segar, saus melimpah, dan tentu saja patty daging yang juicy. Namun, di balik setiap gigitan tersebut, ada "jejak karbon" yang tertinggal cukup besar, terutama jika dagingnya berasal dari sapi.

Daging yang berasal dari sapi, misalnya. Sapi adalah hewan yang menghasilkan gas metana (CH4) dari setiap kotoran dan sendawanya. Sedangkan metana adalah gas rumah kaca yang 25 hingga 80 kali lebih kuat memerangkap panas di atmosfer, ketimbang karbon dioksida (CO2).

Menurut Food and Agriculture Organization (FAO) PBB dalam laporan Livestock’s Long Shadow, sektor peternakan menyumbang sekitar 14,5% dari seluruh emisi gas rumah kaca buatan manusia.

Sedangkan data dari Our World in Data di Oxford, Inggris, industri daging sapi adalah penyumbang emisi terbesar di sektor pangan, bahkan mencapai 60 kali lipat lebih tinggi dibanding protein nabati. 

Belum lagi urusan air; Water Footprint Network mencatat bahwa satu kilo daging sapi bisa menghabiskan hingga 15.000 liter air dalam proses produksinya.

Tapi justru dengan inovasi dan teknologi kini, kuliner dan jajanan seperti burger bisa didorong untuk lebih ramah lingkungan menggunakan alternatif bahan baku, atau hal-hal simpel seperti lebih bijak dalam penggunaan plastik sekali pakai.

 

Burger masa depan, lebih sehat, lebih lestari dan lebih juicy

Di tengah meningkat kesadaran akan kesehatan dan lingkungan, dunia kuliner pun mulai beradaptasi. Salah satu inovasi menarik datang dari The Culinary Institute of America dan Harvard, mereka menantang para chef untuk menciptakan menu yang tak hanya lezat, tapi juga sehat dan ramah lingkungan.

Hasilnya adalah burger nabati, yang terbuat dari kacang-kacangan, kedelai dan sayuran yang dicampur lobak merah.

Namun bagi orang yang tertarik dengan burger daging, di sinilah konsep blended burger menjadi menarik, karena menggabungkan daging dengan bahan seperti jamur. Jenis burger ini menjangkau pecinta daging tanpa mengorbankan rasa.

“Burger sayur cenderung memenuhi orang-orang yang menganggap dirinya vegetarian, namun bagi yang benar-benar penggemar daging, campuran ini memiliki daya tarik di masyarakat (Amerika) dan manfaatnya besar bagi lingkungan,” kata Richard Waite dari World Resources Institute, mengutip Natgeo.

Kalo kamu kehabisan Aldi’s Burger, selain brand burger yang tadi disebutin di atas, kamu juga bisa loh mencoba burger-burger berbasis bahan nabati atau lebih dikenal sebagai plant-based burger.

Dagingnya itu dibuat dari kacang-kacangan atau jamur yang jejak karbonnya jelas jauh lebih rendah dibanding daging sapi.

Selain itu beberapa brand burger juga udah mulai menggunakan kemasan ramah lingkungan, seperti kertas daur ulang atau bahan biodegradable.

Jadi, mau pesan Aldi's Burger atau coba sensasi plant-based yang katanya gak kalah juicy? Apapun pilihannya, yang penting jangan lupa meminimalisir penggunaan plastik sekali pakai, ya! Sehat di perut, aman buat bumi!

 

Sumber:

https://nationalgeographic.grid.id/read/13309933/menyelamatkan-bumi-dengan-mengonsumsi-hamburger-ramah-lingkungan?page=all

Food and Agriculture Organization (FAO) PBB. (2013). Livestock's Long Shadow: Environmental Issues and Options. fao.org

Poore, J., & Nemecek, T. (2018). Reducing food’s environmental impacts through producers and consumers. Science (via Our World in Data). ourworldindata.org

 

Penulis : Hasbi