Darlings, coba buka laci meja kamu sekarang. Ada HP lama yang layarnya retak? Charger yang kabelnya udah ngelupas? Earphone yang cuma bunyi sebelah? Atau power bank yang udah nggak bisa nyimpan daya?
Kalau jawabannya "iya", selamat, kamu nggak sendirian. Banyak dari kita masih suka nyimpen barang elektronik bekas dengan alasan "siapa tahu nanti kepakai" atau "sayang kalau dibuang". Masalahnya, barang-barang ini bisa menumpuk dan jadi sampah, suatu hari akhirnya dibuang begitu saja ke tempat sampah biasa. Padahal, sampah elektronik butuh perlakuan khusus lho.
Yang perlu kita tahu, emang Sampah Elektronik sebahaya itu? Sampah elektronik, atau sering disebut e-waste, adalah semua perangkat listrik dan elektronik yang sudah nggak terpakai. Bentuknya bisa besar seperti kulkas dan TV, sampai kecil seperti HP, kabel data, baterai, earphone, mouse, dan smartwatch. Di era serba digital, jumlah e-waste terus meningkat. Kita makin sering ganti gadget, entah karena rusak, performanya menurun, atau sekadar tergoda dengan model terbaru.
Menurut data Kementerian PPN/Bappenas yang dikutip detikJabar, timbulan sampah elektronik di Indonesia mencapai 2,1 juta ton pada 2023. Angka ini diproyeksikan naik menjadi 4,4 juta ton pada 2030. Artinya, dalam waktu kurang dari satu dekade, jumlahnya bisa lebih dari dua kali lipat.
Secara global, laporan Global E-waste Monitor 2024 mencatat bahwa dari sekitar 62 miliar kilogram sampah elektronik dunia, hanya sekitar 22,3% yang berhasil didaur ulang dengan benar. Sisanya? Banyak yang berakhir di tempat pembuangan atau diolah tanpa prosedur yang aman.
Lalu kenapa e-waste nggak boleh dicampur dengan sampah biasa?
Barang elektronik mengandung berbagai bahan yang berbahaya kalau terlepas ke lingkungan, misalnya timbal, merkuri, dan kadmium, terutama di bagian baterai dan papan sirkuit. Kalau e-waste dibuang bersama sampah rumah tangga dan berakhir di tempat pembuangan terbuka, bahan-bahan ini bisa merembes ke tanah dan air.
Selain itu, sampah elektronik nggak terurai di tanah. Baterai yang rusak atau tertekan juga berisiko memicu percikan api di truk sampah atau tempat pengolahan.
Ironisnya, e-waste juga menyimpan banyak material berharga, seperti tembaga, aluminium, bahkan emas dan perak dalam jumlah kecil. Kalau didaur ulang dengan benar, material ini bisa dipakai lagi. Jadi membuang e-waste sembarangan itu ibarat membuang "tambang" kecil yang seharusnya bisa dimanfaatkan.
So, apa yang sebenarnya bisa dan harus kita lakukan?
Tenang, Darlings, mengelola e-waste nggak sesulit kedengarannya. Kamu bisa ikuti panduan di bawah ini!
Nah, di tanggal 14 Oktober ini, min dar mau ngajak kamu buat memperingati International E-Waste Day bareng-bareng. ini bisa jadi momen buat kita untuk refleksi sadar lingkungan, sambil beresin sampah elektronik kamu. Tujuannya sederhana, yaitu buat mengajak semua orang lebih sadar soal sampah elektronik dan mendorong pengelolaan yang benar.
Kita bisa mulai dengan audit sampah elektronik dengan beresin laci atau storage kita, kumpulin semua kabel, charger, earphone, dan gadget rusak di satu kotak. Pilah mana yang masih bisa diservis, dijual, atau dihibahkan, dan mana yang harus disetor ke dropbox resmi. Lebih seru lagi kalau dilakukan bareng teman kos atau teman kampus, lalu disetor bersama.
Darlings, kita hidup di masa ketika teknologi bergerak cepat. Itu bukan hal buruk, tapi alangkah bijaknya setiap kali kita upgrade gadget, ada baiknya kita juga upgrade kebiasaan, yaitu memakai lebih lama, merawat lebih baik, dan memastikan perangkat lama berakhir di tempat yang tepat.
Jadi, ngaku deh, ada berapa HP lama di laci kamu? Share ceritamu di kolom komentar Instagram @siapdarling, dan yuk mulai beres-beres minggu ini, Darlings!