Plot twist terbesar dalam sejarah biologi laut mungkin bukan soal hiu terbesar atau gurita raksasa. Tapi soal seekor ikan yang seluruh dunia sudah sepakat, sudah punah, sudah selesai, tamat sejak zaman dinosaurus.
Tapi dia masih di sini. Dan sebagian besar hidupnya justru ada di perairan Indonesia lho?!
Namanya Coelacanth, atau dalam bahasa yang lebih keren: ikan raja laut. Nama ilmiahnya untuk versi Indonesia adalah Latimeria menadoensis, dan dia pertama kali bikin heboh dunia pada 1997 ketika ditemukan di perairan Manado, Sulawesi Utara.
Sebelumnya, satu-satunya populasi yang diketahui hidup ada di perairan Afrika Selatan, spesies Latimeria chalumnae yang sudah ditemukan sejak 1938. Jarak antar penemuan keduanya? 59 tahun.
Kenapa ini gila banget?
Karena Coelacanth bukan sekadar ikan langka. Dia adalah ikan yang secara fisik hampir identik dengan nenek moyangnya dari periode Cretaceous, era yang sama ketika T-Rex masih gentayangan di daratan.
Siripnya berbentuk lobus, mirip seperti calon-calon kaki. Dia adalah kerabat terdekat tetrapoda, leluhur semua vertebrata darat, termasuk kita. Ini bukan ikan biasa. Ini fosil hidup yang masih berenang.
Ukurannya juga nggak main-main: panjang bisa sampai dua meter, berat hampir 100 kilogram. Tapi meski segede itu, dia bukan tipe yang agresif.
Raja laut lebih suka diam di gua-gua terumbu karang di kedalaman 150–200 meter, berenang pelan, dan menghindari drama. Introvert sejati, basically.
Dan ternyata, dia ada di mana-mana di Indonesia
Awalnya semua orang kira raja laut Indonesia cuma tinggal di Sulawesi. Tapi penemuan demi penemuan membuktikan sebaliknya.
Kini dia sudah terkonfirmasi di perairan Maluku Utara, hasil ekspedisi kapal selam dan ROV sejak Oktober 2024, yang laporannya baru terbit di jurnal Scientific Reports pada April 2025 dan juga di perairan Biak, Papua.
Kunto Wibowo, peneliti iktiologi dari BRIN, bahkan menduga raja laut bisa jadi juga ada di perairan timur Sumatera dan selatan Jawa.
Alasannya: Indonesia punya Arlindo, sistem arus bawah laut yang mengalirkan air dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia dan raja laut kemungkinan ikut terbawa arus itu.
Bahkan ada kemungkinan spesies yang belum kita temukan sama sekali. Dua garis keturunan Coelacanth di Indonesia sudah terpisah selama 13 juta tahun cukup lama untuk berevolusi jadi sesuatu yang berbeda.
Statusnya sekarang?
Dilindungi penuh. Sejak 2025, raja laut masuk dalam daftar resmi spesies yang nggak boleh ditangkap, diperdagangkan, atau dimanfaatkan.
IUCN memasukkannya dalam kategori Rentan, sementara CITES menempatkannya di Appendix I: spesies yang perdagangannya dilarang secara internasional.
Oh, dan kalau penasaran soal rasanya, jangan ya Darlings. Kandungan lemaknya sangat tinggi dan menurut para peneliti, rasanya memang tidak enak.
Ikan ini berhasil bertahan 66 juta tahun, dan ternyata pilih Indonesia sebagai rumah keduanya. Darlings, kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?