Pernah gak sih kamu bingung buat membuang sampah plastik dan sampah minyak bekas pakai atau yang disebut minyak jelantah?
Pasti pernah ya. nah terinspirasi dari itu, mahasiswa yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) justru berhasil untuk gak sekadar membuang sampahnya, namun menjadikan mereka sebagai nilai lebih.
Dengan pengolahan yang tepat, sampah plastik dan minyak jelantah dijadikan produk ramah lingkungan yang punya nilai jual.
Praktisi Pengelolaan Sampah dari Jogja Life Cycle, Ilham Zulfa Pradipta mengatakan bahwa pada dasarnya plastik bukanlah akhir dari sebuah siklus. Ia bisa diolah kembali, bahkan dikonversi menjadi bahan bakar minyak melalui teknologi tertentu.
Ilham menuturkan, ide awalnya muncul ketika ia sedang menjadi asisten dosen di jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada. Di mana ketika itu, lingkungannya sudah teredukasi untuk memiliah sampah di bank sampah.
“Ayah adalah nasabah dari Bank Sampah. Mengajak untuk memilah dan menyetorkan sampah plastik ke Bank Sampah RT 01 Giwangan,” kata dia kepada RRI.
Mengapa sampah plastik perlu diolah?
Melihat kesesuaian harga sampah plastik cukup rendah, tercetuslah ide untuk melakukan riset agar sampah yang dikumpulkan di Bank Sampah memiliki nilai ekonomis tinggi.
Dari sana, Ilham menemukan bahwa dari olahan cacahan sampah plastik yang dihasilkan, setidaknya ia berhasil menghasilkan kurang lebih 20 macam produk.
Produk yang dijual pun memiliki variasi harga. Coaster atau tatakan gelas kemudian dijual sekitar Rp25 ribu, tasbih Rp35 ribu, gelang Rp30 ribu. Sedangkan produk lainnya seperti kursi dijual mulai dari harga Rp250 ribu, papan mentah ukuran 60cm x 40cm sekitar Rp250 ribu, sedangkan untuk papan ukuran 1m x 1m dijual Rp800 ribu.
Plastik pada dasarnya melalui proses yang panjang. Ilham menjelaskan mulai dari ekstraksi bahan baku, polimerisasi kemudian dapat digunakan masyarakat.
Jenis plastik yang digunakan berupa PET, HDPE, PVC, LDPE, PP dan PS selalu mendominasi penggunaan harian dan menyumbang timbulan sampah yang signifikan.
Dari plastik yang sulit terurai, ia berpotensi menjadi mikroplastik dan mengandung bahan kimia yang membahayakan lingkungan serta kesehatan.
Kolaborasi menjadi kunci
Ilham, bersama Jogja Life Cycle kemudian bekerja sama dengan 13 bank sampah di Kelurahan Giwangan, Jogjakarta. Bersama dua pengepul, dua sekolah dasar dan sejumlah komunitas.
Sementara itu minyak jelantah yang kerap dibuang sembarangan itu dapat diolah kembali menjadi produk yang bernilai ekonomi, seperti dibuat menjadi sabun.
Menurut kamu, ide apa lagi yang bisa bikin sampah jadi lebih bernilai? Yuk coba dan share pengalamanmu!
Referensi:
Tempo
RRI
BBC