Choose a Language

Kenapa Elang Jawa Membutuhkan Kita

Berita Darling
Darling Fauna
Darling Inspirasi
Kenapa Elang Jawa Membutuhkan Kita
19 Oct 2026

Kamu pasti hafal sosok burung gagah yang ada di lambang negara kita. Sayap anggun terbentang, jambul tegak, tatapan tajam. Inspirasi visualnya sering dikaitkan dengan burung yang benar-benar ada. Namanya elang jawa. Dia bukan makhluk mitologi. Dia hidup, bernapas, dan terbang di atas lereng-lereng gunung di Pulau Jawa. Tapi jumlahnya makin sedikit, dan cara dia berkembang biak bikin setiap individu terasa sangat berharga.

Kenalan dulu, biar nggak cuma tahu dari buku

Elang jawa (Nisaetus bartelsi) adalah burung pemangsa endemik Pulau Jawa. Artinya, di seluruh dunia, dia cuma bisa ditemukan secara alami di sini. Ciri paling gampang dikenali adalah jambulnya. Jambul coklat kehitaman dengan ujung putih yang berdiri tegak di kepalanya, kayak mahkota kecil yang selalu siap tampil. Bentang sayapnya bisa lebih dari satu meter, dan suaranya nyaring melengking, gampang terdengar dari kejauhan sebelum sosoknya kelihatan. Sejak 1994, Badan Konservasi Dunia (IUCN) menetapkan statusnya sebagai Genting atau Endangered. Pemerintah Indonesia juga sudah lama menjadikannya satwa dilindungi, sekaligus maskot satwa langka nasional sejak awal 1990-an.

Fakta yang bikin geleng-geleng: satu telur, dua tahun sekali

Ini bagian yang paling penting buat dipahami. Elang jawa hanya bertelur satu butir. Dan itu pun cuma sekitar dua tahun sekali. Bandingkan dengan jenis elang lain yang bisa bertelur dua sampai tiga butir dalam satu periode. Setelah menetas, elang jawa muda juga masih bergantung pada induknya dalam waktu yang lama sebelum benar-benar mandiri.

Anggap aja kayak kamu nabung buat beli satu barang impian. Butuh waktu lama, penuh perjuangan, dan kalau barang itu hilang, kamu nggak bisa langsung beli lagi besok. Begitu juga dengan elang jawa. Satu individu dewasa yang hilang karena diburu, populasinya butuh waktu bertahun-tahun untuk menggantikannya. Ada satu fakta manis juga. Elang jawa dikenal monogami, setia pada satu pasangan. Umurnya bisa mencapai 35 sampai 40 tahun. Jadi kalau ada yang bilang setia itu langka, coba lihat ke langit Jawa.

Berapa yang tersisa?

Per 2025, populasi elang jawa diperkirakan sekitar 511 pasang, atau kurang lebih 600 sampai 1.000 individu. Mereka tersebar di 74 kantong habitat di Jawa bagian barat, tengah, timur, sampai Bali. Kedengarannya lumayan? Sekarang ingat lagi soal satu telur tiap dua tahun. Ditambah lagi, kantong-kantong habitat itu banyak yang terpisah satu sama lain. Elang di satu gunung belum tentu bisa menjangkau gunung lain karena bentang di antaranya sudah berubah jadi kota, jalan, atau lahan terbuka.

Kabar baik dari Gunung Muria

Di tengah kabar yang bikin cemas, ada kabar yang bikin semangat. Tahun 2024, Burung Indonesia bersama Penggiat Konservasi Muria (PEKA Muria) menemukan keberadaan elang jawa di Gunung Muria, kawasan yang terletak di antara Kudus, Jepara, dan Pati, Jawa Tengah. Muria sendiri adalah gunung yang berdiri terpisah dari barisan pegunungan utama Jawa, dan disebut sebagai lanskap paling utara yang diketahui masih menyimpan populasi elang jawa.

Temuan ini bukan kebetulan. Bakti Lingkungan Djarum Foundation sudah terlibat di lereng Muria sejak 2006, awalnya lewat penanaman pohon dan pemulihan tutupan lahan. Begitu ekosistemnya membaik, satwa-satwa yang dulu jarang terlihat mulai kembali tercatat. Fokus pun meluas: dari menanam, ke menjaga keanekaragaman hayati dan habitat satwa endemik.

Djarum Foundation dan Burung Indonesia juga mendukung kajian populasi dan sebaran elang jawa di Muria, yang kini jadi rujukan data terbaru untuk kawasan tersebut. Pertengahan 2026, berbagai pihak duduk bareng menyusun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Elang Jawa untuk periode 2026–2036. Rencana sepuluh tahun. Bukan proyek sekali jalan.

Ancaman yang paling dekat justru ada di HP

Ancaman terbesar elang jawa memang hilangnya habitat. Tapi ada satu ancaman lain yang mungkin sering lewat di linimasa kamu tanpa sadar: perdagangan satwa ilegal. Laporan media menyebut para pelaku jual-beli satwa di media sosial memakai kode khusus supaya lolos dari pengawasan. Salah satu kode untuk elang jawa? "Garuda." Ironis, ya. Simbol negara diperjualbelikan diam-diam lewat kolom komentar. Elang yang dikurung juga kehilangan perannya di alam. Di ekosistem, elang jawa adalah pemangsa puncak yang menjaga populasi tupai, musang, dan kelelawar buah tetap seimbang. Tanpa dia, rantai makanan di gunung jadi timpang.

Elang jawa sudah lama jadi simbol di paspor, di gedung-gedung pemerintahan, dan di lambang negara. Sekarang giliran kita memastikan dia tetap jadi kenyataan di langit, bukan cuma gambar di dinding.