"Dulu di sini nggak pernah banjir." Kalimat ini makin sering kita dengar tiap musim hujan datang. Padahal, hujannya terasa mirip-mirip aja. Lalu, apa yang sebenarnya berubah?
Jawabannya bukan cuma soal hujan, tapi soal kota yang pelan-pelan kehilangan kemampuannya mengelola air.
Dulu, air hujan punya banyak tempat buat mampir. Tanah kosong, sawah, kebun, dan pepohonan membantu air meresap perlahan ke dalam tanah.
Sekarang, banyak ruang itu berubah jadi bangunan, jalan beton, dan aspal. Akibatnya, air hujan nggak sempat meresap dan langsung mengalir ke permukaan.
Semakin sedikit area resapan, semakin cepat air menumpuk.
Pertumbuhan kota sering kali lebih cepat dibanding pembangunan sistem drainase. Saluran air yang awalnya dirancang untuk lingkungan dengan bangunan terbatas, kini harus menampung limpasan dari kawasan padat.
Saat hujan deras turun, kapasitas drainase kewalahan. Air pun meluap ke jalan dan permukiman.
Di banyak kota, sungai makin sempit karena sedimentasi, bangunan di bantaran, dan penurunan kualitas daerah aliran sungai (DAS). Ruang sungai untuk menampung air berkurang, sementara debit air meningkat saat hujan.
Ketika sungai tak lagi mampu menahan, air akan mencari jalannya sendiri.
Hujan hanya datang membawa air. Banjir terjadi ketika sistem alami dan buatan kota tak siap menerimanya.
Kota yang ramah air seharusnya memberi ruang bagi hujan: lewat tanah yang bisa menyerap, sungai yang sehat, dan drainase yang bekerja optimal.
Mengurangi banjir bukan cuma soal memperbesar saluran air tapi juga soal mengembalikan fungsi lingkungan:
Menambah ruang hijau
Melindungi bantaran sungai
Membuat area resapan di permukiman
Kota yang baik bukan kota yang mengusir hujan, tapi kota yang tahu cara berdamai dengannya.