Liburan selalu jadi momen yang ditunggu-tunggu. Mau ke pantai, camping di gunung, staycation di hotel, atau bahkan cuma rebahan di rumah, semuanya sah-sah aja. Tapi ada satu hal yang sering ikut “liburan” bareng kita tanpa disadari sampah.
Tanpa kita sadari, euforia liburan sering bikin konsumsi meningkat. Makan lebih banyak, belanja lebih sering, dan sayangnya… buang sampah juga jadi lebih banyak.
Setiap pilihan liburan punya potensi sampahnya sendiri:
Pantai
Sampah plastik seperti botol minum, kantong makanan, dan kemasan sekali pakai masih jadi pemandangan yang sering ditemui.
Camping di Gunung
Bungkus makanan instan, botol air, dan tisu basah kerap tertinggal, bahkan di jalur pendakian.
Staycation di Hotel
Mulai dari kemasan toiletries, makanan takeaway, sampai sisa dekorasi liburan.
Di Rumah Aja
Jangan salah, liburan di rumah juga bisa menghasilkan tumpukan sampah dari belanja online, makanan instan, dan kemasan paket.
Ke mana pun liburannya, tantangannya tetap sama, bagaimana kita mengelola sampah dengan lebih bijak.
Faktanya, volume sampah saat musim liburan, termasuk periode Natal dan Tahun Baru mengalami peningkatan signifikan. Beberapa laporan internasional mencatat kenaikan sekitar 25–30% dibandingkan hari-hari biasa. Lonjakan ini berasal dari kemasan makanan, minuman, dekorasi, hingga berbagai kebutuhan perayaan.
Artinya, momen yang seharusnya jadi waktu istirahat justru memberi tekanan ekstra bagi lingkungan, terutama jika sampahnya tidak dikelola dengan baik.
Kabar baiknya, liburan ramah lingkungan bukan hal yang ribet. Beberapa langkah kecil yang bisa dilakukan:
Bawa botol minum dan alat makan sendiri
Kurangi penggunaan plastik sekali pakai
Habiskan makanan, jangan berujung jadi sisa
Pilah sampah sesuai jenisnya
Jangan tinggalkan apa pun di alam selain jejak kaki
Hal-hal kecil ini kelihatannya sepele, tapi dampaknya besar kalau dilakukan bersama-sama.
Liburan adalah soal menikmati waktu, bukan meninggalkan masalah baru untuk lingkungan.
Di mana pun liburannya, kurangi sampahnya. Jangan sampai tahun baru datang, tapi yang kita tinggalkan justru tumpukan sampah baru.