Choose a Language

Macan Tutul Jawa Predator Penguasa Terakhir yang Jago Banget Ngumpet

Darling Air
Berita Darling
Darling Fauna
Macan Tutul Jawa Predator Penguasa Terakhir yang Jago Banget Ngumpet
26 Oct 2026

Coba tebak. Siapa predator puncak terakhir yang masih bertahan di Pulau Jawa? Bukan buaya. Bukan ular sanca. Jawabannya macan tutul jawa. Yes, kucing besar bertotol yang mungkin cuma pernah kamu lihat lewat layar itu ternyata tinggal nggak sejauh yang kamu kira. Dia ada di lereng-lereng gunung di pulau yang sama dengan tempat kita macet tiap pagi. Diam. Sabar. Hampir nggak pernah kelihatan. Saking jagonya ngumpet, banyak warga yang tinggal bertahun-tahun di dekat habitatnya cuma pernah menemukan jejak kaki, bukan sosoknya. Tapi justru karena jarang kelihatan, kita sering lupa dia ada. Dan sesuatu yang dilupakan biasanya juga jarang dijaga.

Jumlahnya tinggal sedikit, rumahnya terpencar

Data Kemenhut yang dikutip dalam diskusi BLDF bersama Yayasan SINTAS Indonesia pada April 2026 menyebut populasi macan tutul jawa tinggal sekitar 350 individu dewasa. Mereka tersebar di 29 kantong habitat yang terisolasi satu sama lain.

Tiga ratus lima puluh. Itu kira-kira sebanyak mahasiswa baru di satu fakultas.

Masalahnya bukan cuma jumlah. Kata kuncinya ada di "terisolasi". Bayangin 29 grup chat yang anggotanya nggak bisa saling kirim pesan. Macan tutul di satu gunung susah ketemu pasangan dari gunung lain karena di antaranya sudah berdiri jalan, permukiman, dan lahan pertanian. Lama-lama, keragaman genetiknya menyempit, dan populasi kecil seperti ini jadi lebih rentan menghilang kalau ada satu saja gangguan besar.

Eh, macan kumbang itu beda spesies?

Nggak. Ini salah satu fakta yang sering bikin kita bingung atau bahkan kaget. Macan kumbang yang hitam legam itu sebenarnya macan tutul jawa juga, hanya saja tubuhnya memproduksi pigmen gelap lebih banyak. Coba lihat di bawah cahaya yang pas, totolnya masih samar-samar terlihat. Dalam data pemantauan kamera yang dipaparkan Djarum Foundation pada 2025, dari 34 individu yang terekam, 12 di antaranya berwarna hitam alias macan kumbang, sisanya bertotol. Jadi kalau ada yang bilang "itu bukan macan tutul, itu macan kumbang", kamu cukup tau aja. Meski mereka beda warna, tapi mereka berdua macan dengan satu spesies yang sama.

Seribu kamera, satu misi: menghitung

Untuk melindungi sesuatu, kita perlu tahu dulu ada berapa dan di mana. Kedengarannya sepele, padahal ini bagian paling melelahkan. Sejak Februari 2024, Kemenhut bersama Djarum dan Yayasan SINTAS Indonesia memulai sensus macan tutul jawa di seluruh pulau, namanya Java-Wide Leopard Survey (JWLS). Caranya dengan memasang kamera jebak di titik-titik habitat, menunggu berbulan-bulan, lalu membaca ribuan rekaman satu per satu. Sampai 2025, survei ini sudah mengidentifikasi sedikitnya 34 individu, terdiri dari 11 jantan dan 23 betina. Kenapa bisa tahu itu individu yang berbeda? Pola totol macan tutul itu unik, mirip sidik jari. Tim peneliti mencocokkan pola itu dari satu foto ke foto lain. Ada juga analisis genetik dari sampel kotoran yang diolah di laboratorium Universitas Gadjah Mada. Data seperti ini yang nantinya jadi pegangan saat menyusun strategi konservasi. Bukan tebak-tebakan. Bukan asumsi.

Lereng Muria dan panggilan "Kyai"

Salah satu kantong penting macan tutul jawa ada di Gunung Muria, gunung yang berdiri sendiri di antara Kudus, Jepara, dan Pati, Jawa Tengah. Pemantauan kamera jebak oleh Yayasan Penggiat Konservasi Muria (PEKA Muria) bersama sejumlah pihak pada 2018 mendeteksi sekitar 14 individu dewasa di kawasan ini. Angka yang kelihatannya kecil, tapi berarti banyak untuk sebuah gunung yang luasnya terbatas.

Yang menarik justru datang dari warganya. Di beberapa desa di lereng Muria, macan tutul dipanggil dengan sebutan hormat "Kyai". Petani kopi yang menemukan jejaknya di kebun nggak buru-buru panik. Sikap saling menghormati semacam ini, menurut PEKA Muria, ikut membantu satwa ini tetap bertahan.

Bakti Lingkungan Djarum Foundation sendiri sudah terlibat di lereng Muria sejak 2006, awalnya lewat penanaman pohon dan pemulihan tutupan lahan. Maret 2026, Kemenhut menyebut ada penjajakan kerja sama dengan unit filantropi Grup Djarum untuk proyek konservasi macan tutul di Muria, termasuk rencana kawasan konservasi yang usulannya kini sedang dikaji.

"Aku kan tinggal di kota. Emang ngaruh?"

Ngaruh. Lebih dari yang kelihatan. Predator puncak itu semacam admin di sebuah ekosistem. Dia menjaga populasi hewan lain, seperti kijang dan monyet, supaya nggak meledak. Kalau predatornya hilang, populasi mangsanya bisa melonjak, dan ujungnya mereka turun ke kebun dan ladang warga untuk mencari makan, yang akhirnya bisa memicu konfilk antara macan dengan manusia. Gunung yang ekosistemnya utuh juga menyimpan air. Air itu mengalir ke sungai, ke sumur, sampai akhirnya ke keran di rumah-rumah di dataran rendah. Jadi menjaga habitat macan tutul, secara nggak langsung, juga menjaga sesuatu yang kita pakai setiap hari. Keberadaan macan tutul di sebuah gunung itu semacam tanda centang hijau. Artinya, rantai kehidupan di sana masih berjalan.

Terus, ita bisa bantu apa?

Kamu nggak harus naik gunung bawa kamera jebak. Ada langkah yang jauh lebih dekat:

  • Jangan beli atau ikut menyebarkan jual-beli satwa liar. Termasuk kulit, taring, atau "suvenir" dari bagian tubuh satwa. Kalau nemu akun yang menjual, laporkan.
  • Cek dulu sebelum share. Video "macan masuk kampung" sering viral dengan narasi menakutkan. Konteks yang salah bisa memicu kepanikan dan perburuan.
  • Dukung produk dari petani lereng gunung yang bertani tanpa merusak habitat, misalnya kopi dari kebun di sekitar kawasan konservasi.
  • Bagikan kabar baiknya. Konservasi juga butuh perhatian publik. Satu repost bisa bikin teman kamu sadar bahwa Jawa masih punya kucing besarnya sendiri.

Macan tutul jawa mungkin nggak akan pernah muncul di depan kamu. Dan itu justru kabar bagus, artinya dia masih punya ruang untuk sembunyi. Tugas kita sederhana, which memastikan ruang itu tetap ada.

Penulis : SD-AL