Coba deh, kapan terakhir kali kamu kebangun gara-gara suara kicau burung, bukan alarm HP?
Buat sebagian dari kita, momen itu mungkin udah jadi kenangan masa kecil di rumah nenek. Tapi tenang, ini bukan cerita sedih. Justru ini cerita tentang kenapa kita perlu bikin kicauan itu balik lagi ke telinga kita.
Menurut laporan Kompas, dulu kicau burung jadi alarm alami tiap pagi di kota, tapi kini suara itu semakin jarang terdengar seiring pohon-pohon besar yang menghilang, taman kota yang menyusut, dan ruang terbuka hijau yang dikorbankan demi bangunan.
Perubahan ini gak terjadi semalam, melainkan hasil urbanisasi yang berjalan pelan tapi konsisten selama satu-dua dekade terakhir, ditambah polusi udara dan kebisingan yang terus mengusik keseimbangan alam.
Riset terbaru dari Universitas Michigan yang dimuat Kompas.com juga menemukan bahwa kebisingan akibat aktivitas manusia mempengaruhi banyak aspek perilaku burung, termasuk hormon stres dan reproduksi mereka.
Sejak 1970-an, populasi burung memang tercatat menurun cukup drastis—di Amerika Utara saja, sekitar tiga miliar burung dewasa dilaporkan hilang.
Nah, disinilah bagian serunya. Menurut Green Network Asia, burung di perkotaan ternyata beradaptasi dengan berkicau lebih tinggi dan lebih tergesa agar suaranya tetap terdengar di tengah bisingnya kota, sementara beberapa spesies lain justru memilih melambatkan kicauannya. Keren gak sih, mereka gak nyerah gitu aja!
Bahkan, riset yang dilaporkan Kompas menunjukkan, burung juga menyesuaikan diri dengan polusi cahaya, mereka jadi bernyanyi lebih lama hingga larut malam di area yang terang benderang, sebuah temuan dari analisis lebih dari 180 juta rekaman suara burung di seluruh dunia.
Adaptasi ini jadi bukti nyata betapa fleksibelnya makhluk kecil ini dalam menghadapi dunia yang berubah cepat.
Yang bikin optimis, para peneliti sendiri percaya masalah ini bisa diperbaiki. Salah satu penulis studi Universitas Michigan menegaskan bahwa begitu banyak masalah keanekaragaman hayati yang terasa besar dan tak terbendung, padahal sebenarnya solusinya sudah tersedia, salah satunya lewat penyesuaian material bangunan dan pengelolaan kebisingan kota.
Ruang terbuka hijau pun terbukti jadi kunci penting. Taman kota dan area hijau berfungsi sebagai refugia, tempat perlindungan bagi burung di tengah tekanan pembangunan permukiman dan industri.
Kabar baiknya lagi, kita gak perlu jadi ahli lingkungan buat bantu burung balik nyanyi di sekitar kita. Menanam pohon atau tanaman berbunga di halaman rumah bisa jadi tempat singgah yang nyaman. Menaruh wadah air kecil juga bisa jadi oase buat burung yang kehausan di tengah panasnya kota.
Kalau punya balkon atau halaman kecil, coba gantung tempat makan burung sederhana isi biji-bijian. Dijamin, dalam beberapa minggu, kamu bakal punya "tamu tetap" yang mampir tiap pagi.
Meskipun burung memang makin jarang bernyanyi di kota, bukan berarti kita cuma bisa pasrah. Justru ini momen yang pas buat kita ikut ambil peran, sekecil apa pun itu. Satu pohon yang kita tanam, satu wadah air yang kita sediakan, bisa jadi undangan buat mereka balik lagi.
Yuk, mulai dari sekarang, kita bikin kota jadi tempat yang lebih ramah buat mereka bernyanyi lagi. 🐦
Sumber:
Kompas, Green Network Asia, Biodiversity Warriors (Kehati).