Choose a Language

Mengapa Terumbu Karang Butuh Dokter?

Darling Air
Berita Darling
Darling Inspirasi
Mengapa Terumbu Karang Butuh Dokter?
24 Jul 2026

Kalo kamu pernah snorkeling atau diving, mungkin pernah lihat pemandangan terumbu karang yang warnanya pucat pasi, hampir putih semua. 

Kelihatannya cantik sih, tapi jangan tertipu, karena itu sebenernya tanda karang lagi "sakit." Untungnya, sama kayak manusia, karang juga punya "dokter" yang siap membantu mereka pulih.

Kenapa Karang Bisa Sakit?

Karang itu sebenarnya makhluk hidup, bukan batu seperti yang sering disangka orang. 

Fenomena pemutihan atau bleaching terjadi saat karang kehilangan pigmen warnanya dan berubah jadi transparan hingga tampak putih dari rangkanya, biasanya dipicu kenaikan suhu air laut. 

Menurut laporan Mongabay Indonesia, peneliti BRIN mencatat gejala ini sudah terpantau di berbagai perairan Indonesia sejak 2023, dan kondisi serupa juga tercatat meluas di sepanjang utara Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara pada akhir 2023.

Selain suhu laut yang naik, karang juga bisa "sakit" karena aktivitas manusia seperti penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, sedimen, sampah plastik yang menempel, sampai kontak langsung dari penyelam pemula. 

Padahal, terumbu karang adalah rumah bagi ribuan spesies laut dan sumber penghidupan jutaan orang di pesisir.

Kabar Baiknya, Karang Bisa Disembuhkan

Nah, ini bagian yang bikin semangat. Karang tropis seperti di Indonesia ternyata punya kemampuan pemulihan yang cukup baik secara alami, dan jika proses pemulihan alami itu belum cukup, manusia bisa turun tangan lewat rehabilitasi dan restorasi.

Salah satu caranya adalah transplantasi karang, yaitu teknik pencangkokan fragmen karang sehat ke media baru supaya bisa tumbuh dan berkembang biak lagi. 

Di Indonesia, metode ini jadi yang paling umum dipakai karena relatif terjangkau dan efektif.

Para "Dokter Karang" yang Turun ke Laut

Yang bikin makin hangat di hati, upaya penyembuhan karang ini melibatkan banyak sekali "tenaga medis" sukarela.

Di Bali Utara, program biorock dijalankan untuk sebuah metode yang memakai aliran listrik lemah untuk mempercepat pertumbuhan mineral karang.

Bahkan ada juga proyek restorasi karang tunggal terbesar di dunia yang berlangsung di Pulau Bontosua, Sulawesi Selatan, tahun 2023. 

Menurut Mongabay Indonesia, sebanyak 49 penyelam dari berbagai lembaga konservasi bergotong royong menanam 30.000 fragmen karang menggunakan struktur reef stars berbentuk seperti laba-laba raksasa. 

Warga lokal dan kelompok perempuan setempat pun ikut ambil bagian, membuktikan bahwa "menjadi dokter karang" itu bisa dilakukan siapa saja.

Di Nusa Tenggara Timur, para pelajar bahkan diajak langsung terjun mempelajari cara mengikat karang ke struktur transplantasi, seperti yang terlihat dalam program demplot restorasi terapung di Nusa Penida. 

Kamu Juga Bisa Ikut Merawat

Kabar baiknya, gak perlu jadi ahli kelautan buat bantu proses penyembuhan ini. Kalau kamu suka snorkeling atau diving, cukup dengan tidak menyentuh atau menginjak karang, kamu sudah membantu banget. 

Ikut program bersih pantai, atau sekadar mengurangi sampah plastik yang berujung ke laut, juga jadi bentuk perawatan yang nyata.

Banyak juga komunitas dan operator wisata selam di berbagai daerah yang membuka program adopsi atau edukasi restorasi karang untuk wisatawan maupun pelajar, jadi siapa pun yang penasaran bisa langsung belajar dari lapangan.

Jadi, karang butuh "dokter" bukan karena mereka lemah, tapi karena mereka berharga dan layak diperjuangkan. 

Dengan kombinasi kemampuan pemulihan alami karang dan tangan-tangan manusia yang peduli, terumbu karang Indonesia punya peluang besar buat kembali berwarna-warni seperti sedia kala.

Yuk, jadi bagian dari tim "dokter karang," sekecil apapun peranmu. Karena laut yang sehat, dimulai dari kepedulian kita hari ini. 🐠🪸

Sumber: Mongabay & BRIN.

Penulis : SD