Gak cuma hewan yang bisa jadi karnivora, ternyata tumbuhan juga bisa memakan daging.
Eits, tapi bukan daging yang besar-besar gitu ya. Tumbuhan ini biasa memakan seperti hewan dan serangga kecil.
Tumbuhan ini bernama kantong semar. Memiliki nama ilmiah Nephentes, ia tersebar di banyak tempat di Indonesia, khususnya Pulau Sumatera dan Kalimantan dengan 64 jenis kantong semar dengan 59 jenis di antaranya adalah tumbuhan endemik.
Dari sudut pandang tumbuhan, setiap serangga yang mendekat adalah harapan untuk bertahan hidup. Tidak butuh gigi dan otot, hanya sedikit kesabaran dan tipu daya untuk melahapnya.
Begitu serangga mendarat di ‘lidah’ kantong semar, ia ditelan dan menggelincir masuk ke cairan asam di kantong dan secara perlahan menikmati nutrisinya.
Sebagian kantong semar langka dan dilindungi
Di Kabupaten Karo, Sumatera utara, kantong semar ini disebut takur-takur atau tahul-tahul.
Bentuknya berbeda dari kantong semar yang kita biasa lihat, daunnya berukuran setengah jengkal dengan tangkai pendek sekitar 10 sampai 30 sentimeter.
Kantongnya seperti cawan dan corong berwarna cerah, hijau, kuning atau merah keunguan.
Memiliki nama ilmiah Nepenthes rigidifolia, tumbuhan ini merupakan kantong semar langka dan masuk dalam status critcally endangered menurut IUCN Red List.
Alias selangkah lagi menuju kepunahan.
Sedihnya menurut peneliti, saat ini populasi di alam liar hanya tersisa sekitar 2 rumpun atau 20 batang.
“Tumbuhan ini membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk tumbuh dan mengembangkan kantung sempurnanya,” tambah Peneliti BRIN Joko Witono.
Apakah kantong semar dapat memakan manusia?
Barry Rice, penanam tumbuhan karnivora profesional, pernah melakukan eksperimen untuk menjawab pertanyaan ini.
Dikutip Detik, ia pernah memberi tumbuhan perangkap lalat Venus miliknya dengan sepotong kulit manusia, yang terkelupas akibat kutu air.
Rice juga memotong empat lembar kulit berukuran sama dan meletakannya di bibir empat perangkap lalat tumbuhan Venus.
Seminggu kemudian, hasilnya adalah potongan kulit manusia hampir dicerna seutuhnya.
Namun ada beberapa catatan dari eksperimen ini, hanya satu kulit yang diuji dan tidak memberi gambaran lengkap berbagai jenis jaringan kulit.
Selain itu, ukuran dan skalanya dapat dipertimbangkan.
Tumbuhan karnivora seperti kantong semar pada dasarnya mengandalkan fotosintesis dan bergantung pada akarnya.
Meski punya potensi untuk mencernanya, tumbuhan karnivora memerlukan masa mencerna hingga berbulan-bulan.
Kondisi yang lama ini akan menyebabkan penumpukan bakteri pembusuk dan hal ini berbahaya karena dapat mengakibatkan tumbuhan itu mati.
Dari penelitian ini, bukan gak mungkin tumbuhan karnivora dikembangkan oleh para saintis untuk kebermanfaatan manusia.
Jangan lupa bagikan artikel ini ke teman-temanmu agar makin banyak yang tahu pentingnya melindungi tumbuhan langka kita!