Choose a Language

Nasi Sisa yang Diam-Diam Jadi Masalah Besar

Darling Sampah
Berita Darling
Nasi Sisa yang Diam-Diam Jadi Masalah Besar
21 Oct 2026

Pernah pesan makanan, lapar banget, terus ternyata porsinya kebanyakan?

Akhirnya sisa. Sedikit, sih. Tapi akhirnya malah jadi sampah. Masalahnya, kebiasaan "cuma sedikit" ini dilakukan jutaan orang setiap hari. Dan kalau dikumpulkan, hasilnya sama sekali nggak sedikit.

Kalau ditanya sampah paling banyak di Indonesia, kebanyakan orang langsung jawab plastik. Wajar, karena plastik yang paling sering muncul di foto-foto sungai dan pantai. Tapi, nyatanya bukan. Menurut Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) milik Kementerian Lingkungan Hidup, sekitar 39 persen timbulan sampah Indonesia sepanjang 2024 adalah sisa makanan. Plastik ada di posisi kedua dengan porsi sekitar 19,5 persen. Artinya, sampah sisa makanan kita kira-kira dua kali lipat sampah plastik.

Laporan Food Waste Index 2021 dari Program Lingkungan PBB (UNEP) bahkan menempatkan Indonesia di jajaran lima besar negara penghasil sampah makanan, dengan sekitar 20,9 juta ton per tahun. Coba bayangin angka itu sebentar. Lalu ingat bahwa di saat yang sama, masih banyak orang yang kesulitan memenuhi kebutuhan makannya.

"Kan organik, nanti juga terurai sendiri"

Ini salah paham yang paling sering muncul. Dan alasannya masuk akal, karena di alam terbuka sisa makanan memang bisa terurai. Bedanya, sisa makanan kita kebanyakan nggak berakhir di alam terbuka. Dia berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA), tertimbun bersama tumpukan sampah lain, nyaris tanpa udara.

Dalam kondisi minim oksigen seperti itu, sisa makanan membusuk dan menghasilkan gas metana. Metana adalah gas rumah kaca yang kemampuannya memerangkap panas jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida dalam jangka pendek. Jadi sepiring nasi yang kita buang hari ini ikut menyumbang pemanasan bumi beberapa tahun ke depan. Coba kamu hitung, apa saja yang ikut terbuang bareng sisa nasi itu, air untuk menanam padi, pupuk, tenaga petani, bahan bakar truk yang mengangkut, listrik untuk memasak. Semua sumber daya itu ikut jadi sia-sia. Jadi yang kita buang bukan cuma nasinya. Tapi seluruh perjalanan yang bikin nasi itu sampai ke piring kita.

Pemerintah lewat Bappenas sudah menyusun peta jalan pengelolaan susut dan sisa pangan, dengan target pengurangan hingga 75 persen pada 2045. Target besar butuh langkah besar, tapi juga butuh jutaan langkah kecil dari kita. Kamu nggak harus langsung jadi orang yang nol sampah makanan. Nggak ada yang menuntut itu. Mulai aja dari satu kebiasaan. Mungkin minggu ini kamu coba ambil makanan secukupnya. Minggu depan, coba bawa wadah sendiri. Pelan-pelan, piring yang bersih jadi hal biasa, bukan hal yang perlu diingat-ingat.

Dan lain kali kalau kamu mau nyoba buat nyisain makanan kamu, please, ingat bahwa butir-butir inasi tu sudah menempuh perjalanan panjang untuk sampai ke kamu. Karena seporsi yang kita habiskan, ternyata juga seporsi kepedulian buat bumi.

Penulis : SD AL