Kalau ditanya jenis sampah apa yang paling banyak di Indonesia, kebanyakan dari kita mungkin bakal jawab, plastik. masuk akal sih, ya karena plastik memang yang paling sering kelihatan, dari pinggir jalan sampai pantai. Tapi data berkata lain, Darlings.
Menurut Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2025, juara satu sampah di Indonesia justru sisa makanan. Bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia setiap 16 Oktober, yuk kita bedah "rapor" sampah kita dan cari tahu kenapa angka ini sebenarnya bisa jadi kabar baik terselubung.
Rapor Lengkapnya
Berikut komposisi sampah nasional 2025 berdasarkan data SIPSN:
Artinya, hampir separuh sampah yang kita hasilkan berasal dari makanan yang nggak habis, kedaluwarsa, atau terbuang sebelum sempat diolah. Plastik ada di posisi kedua, dengan porsi sekitar seperlima dari total komposisi.
Kenapa Sisa Makanan Bisa Jadi Masalah Besar?
Sekilas, sisa makanan kelihatan nggak berbahaya. Toh bisa membusuk sendiri, kan? Masalahnya, ketika sisa makanan bercampur dengan sampah lain dan menumpuk di tempat pemrosesan akhir, ia membusuk tanpa cukup oksigen. Proses ini menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang ikut mendorong pemanasan global.
Belum lagi soal jejak di balik sepiring makanan. Setiap nasi, sayur, dan lauk yang kita makan sudah melewati perjalanan panjang: lahan, air, pupuk, tenaga petani, transportasi, sampai energi untuk memasak. Waktu makanan itu dibuang, semua sumber daya tadi ikut terbuang.
Kajian Food Loss and Waste yang dirilis Bappenas pada 2021 bahkan memperkirakan, sepanjang 2000–2019, Indonesia kehilangan 23 sampai 48 juta ton pangan per tahun. Nilai ekonominya diperkirakan mencapai Rp213 sampai Rp551 triliun per tahun. Angka yang bikin geleng-geleng kepala, kan?
Tapi plot twistnya ada yang menarik Darlings, Kalau sisa makanan (40,77%) digabung dengan kayu dan ranting (13,13%), lebih dari separuh sampah nasional adalah sampah organik. Sampah jenis ini sebenarnya bisa diolah menjadi sesuatu yang berguna, misalnya:
Syaratnya cuma satu, tapi krusial: sampah organik harus dipilah sejak dari rumah. Begitu tercampur dengan plastik, minyak, atau sampah lain, prosesnya jadi jauh lebih sulit, bahkan nyaris mustahil.
Pemerintah sendiri menargetkan pengelolaan sampah bisa mencapai 100% pada 2029. Target sebesar itu nggak akan tercapai tanpa partisipasi dari tiap rumah tangga dan tiap individu, termasuk kita.
Mulai dari Piring Kita Sendiri
Kabar baiknya lagi, sisa makanan adalah jenis sampah yang paling bisa kita kendalikan secara langsung. Kita nggak perlu nunggu kebijakan baru atau teknologi canggih. Cukup mulai dari kebiasaan makan sehari-hari:
Tantangan #PiringBersih
Untuk merayakan Hari Pangan Sedunia, SiapDarling ngajak kamu ikut tantangan sederhana: selama satu minggu, pastikan setiap piring yang kamu ambil habis tanpa sisa. Foto piring bersihmu, unggah ke Instagram Story, dan tag @siapdarling. Siapa tahu kebiasaan kecil ini menular ke teman-temanmu.
Karena kalau dipikir-pikir, menurunkan nilai rapor sampah Indonesia itu nggak harus dimulai dari hal besar. Bisa dimulai dari satu sendok nasi terakhir yang nggak kita sisakan.
Selamat Hari Pangan Sedunia, Darlings!