Ada sungai yang airnya menyusut. Ada yang tinggal aliran kecil. Bahkan di beberapa tempat, bahkan mulai mengering dan dasarnya, karena kemarau yang ekstrem.
Buat orang yang tinggal di sekitar sungai, perubahan seperti ini menjadi persoalan penting. Bagi mereka, air sungai bisa berarti air untuk menunjang kebutuhan sehari-hari, sawah yang harus tetap dialiri, atau penghasilan yang bergantung pada kondisi sungai.
Sementara di kota, sungai sering terasa seperti sesuatu yang jauh dari keseharian. Padahal kalau urusan Sungai, nggak sesederhana itu. Di Jakarta, sekitar 80% kebutuhan air baku berasal dari sistem Sungai Citarum. Jadi, meskipun sungainya nggak kelihatan dari jendela rumah, kondisinya tetap nyambung sama kehidupan kita.
Itulah kenapa ketika sungai mengalami kekeringan, permasalahannya bisa lebih kompleks. Kemarau yang lebih panjang dan pola cuaca yang makin nggak menentu membuat ketersediaan air di sejumlah wilayah ikut terdampak. Yang paling cepat merasakan dampaknya, yang hidupnya dekat dengan sungai. Tapi kalau kondisi terus berlanjut, dampaknya bisa ke aspek kehidupan yang lain.
Darlings, untuk meminimalisir risiko dan mencegah kemarau panjang, kita masih bisa melakukan hal yang dekat dengan kita. Dengan menggunakan air seperlunya, nggak membuang sampah ke sungai, dan mulai melihat sungai sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari bukan sekadar pemandangan yang dilewati saat perjalanan. Itu bisa jadi langkah awal buat menjaga kelestarian Sungai dan keberlanjutan air di kehidupan kita.
Selamat Hari Sungai Sedunia, Darlings!