Choose a Language

Sungai-Sungai yang Sempat 'Mati' dan Hidup Kembali

Darling Sampah
Berita Darling
Darling Inspirasi
Sungai-Sungai yang Sempat 'Mati' dan Hidup Kembali
22 Jun 2026

Pada 1957, ilmuwan Inggris dengan sangat resmi mengumumkan bahwa Sungai Thames sudah mati. Bukan dalam artian kiasan. Mati beneran nggak ada satu pun makhluk hidup yang sanggup bertahan di dalamnya. 

Enam puluh tahun kemudian, anjing laut nongkrong di sana.

Dan Thames bukan satu-satunya. Ternyata ada pola yang berulang di berbagai penjuru dunia: sungai divonis mati, semua orang angkat tangan, lalu entah bagaimana — sungai itu hidup lagi. Nggak ajaib, nggak instan. Tapi nyata.

Thames, London: Dari Tempat Terjorok di Eropa ke Rumah Anjing Laut

Sebelum divonis di 1957, Thames sudah lama jadi tempat buang segalanya. Sampah dapur, bangkai, kotoran manusia semua bermuara ke sana. Baunya sampai punya nama sendiri: The Great Stink. Pernah ada satu musim panas di abad ke-19 di mana parlemen Inggris terpaksa tutup sidang karena nggak ada yang tahan duduk di dekat jendela.

Yang kemudian dilakukan London nggak glamor sama sekali. Kapal-kapal jelek berpatroli setiap hari buat menjaring sampah. Sistem filter dibangun pelan-pelan. Denda buat yang ketahuan buang sampah ke sungai dibuat cukup menyakitkan di kantong.

Sekarang Thames punya 125+ spesies ikan. Anjing laut udah pindah dan menetap di sana. Kadang mereka muncul ke permukaan di tengah kota London dan orang-orang berhenti buat foto. Sungai yang sama yang dulu baunya bikin parlemen tutup sidang.

Han, Seoul: Pulau Sampah yang Jadi Tempat Piknik Favorit

Di tengah-tengah Sungai Han ada sebuah pulau bernama Nanjido. Selama belasan tahun, pulau ini adalah TPA resmi Seoul. Gunungan sampah. Harfiah.

Air di sekitarnya mati total. Nggak ada yang mau deket-deket.

Tapi Seoul punya ide yang sebenernya sederhana banget. Gunungan sampahnya nggak dibuang ditutup. Lapisan kedap air, tanah bersih ditumpuk di atasnya, pohon-pohon ditanam. Sekarang namanya World Cup Park dan tiap weekend penuh sama orang jogging, keluarga piknik, sama anak-anak main layang-layang.

Dasar sungainya dikeruk, bantarannya dijadiin ruang publik. Dan efek yang paling nggak terduga: begitu sungai jadi tempat yang orang mau datengin, orang secara otomatis jadi males ngotorinnya. 

Pasig, Manila: Masih Berjuang, Tapi Udah Jauh Banget

Di tahun 90-an, sungai sepanjang 25 km di Manila ini nggak kelihatan airnya sama sekali. Kasur bekas, tumpukan plastik, sampah rumah tangga nutupin permukaan dari ujung ke ujung. Salah satu penyumbang sampah plastik ke laut terbesar di dunia. Mati secara biologis. Dan nggak ada yang terlalu optimis buat bersihin.

Yang kemudian terjadi adalah campuran antara birokrasi, teknologi, dan sesuatu yang lebih personal: warga lokal direkrut jadi River Warriors. Dibayar buat patroli, mungutin sampah, dan ngobrol sama tetangga soal kenapa sungai ini penting.

Belum selesai. Tapi sebagian besar areanya udah bebas dari tumpukan sampah. Beberapa spesies ikan mulai balik. Bantarannya pelan-pelan berubah jadi jalur hijau. Dan ada sesuatu yang beda ketika orang yang tinggal di pinggir sungai itu sendiri yang berjaga — bukan tim dari luar yang datang, bersihin, lalu pergi.

Apa yang sama?

Kalau dipikir-pikir, tiga cerita ini punya pola yang sama: nggak ada yang instant, nggak ada teknologi revolusioner yang tiba-tiba jadi solusi, dan nggak ada satu "momen besar" yang mengubah segalanya.

Yang ada adalah: cegat sampah sebelum terlanjur masuk ke aliran utama. Jadiin bantaran sungai sesuatu yang orang mau jaga. Dan beresin dulu sistemnya di darat, karena sungai nggak akan pernah bersih kalau sampah dari daratan terus bocor masuk.

Penulis : SD